24 Kini
Seminggu kujalani di usia 24, 23 telah berlalu dengan terlalu cepat.
Renungan pun dijalani kembali di awal usia ini.
Berjalan terlalu cepatnya waktu terkadang melupakan tujuan hidup kita. Teringat perkataan dari seorang anak manusia yang pernah terngiang beberapa tahun lalu.
“kenapa kita bekerja?”
Pandangan duniawi dari jawaban ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia akan makanan, kelayakan, dan seks. Tapi terucap penjelasan bahwa jika Allah mau, maka manusia pun bisa kaya tanpa bekerja. Lalu apa jawabnya?
“kita bekerja karena itu adalah sunnah Rasul”
Sebuah pandangan yang hanya bisa diterima setelah doktrin meresap di jiwa. Perlukah itu dipertanyakan?
Di usia ini telah kulihat langsung manusia-manusia yang menjalani gaya hidup ala mimpi barat. Kerja keras dengan menghabiskan waktu penuh tekanan di berbagai belahan dunia. Menghabiskan uang mereka untuk berlibur karena liburan dibutuhkan agar mereka segar kembali untuk bekerja.
Mereka berlibur agar bisa bekerja dengan baik, lalu untuk apa mereka bekerja? Agar punya uang untuk berlibur ke berbagai pelosok belahan dunia.
Teringat pula akan anak manusia yang menuntut ilmu sampe ke benua biru. Untuk apa?
“supaya bisa jalan-jalan keliling dunia”
Hanya itu sajakah? Tidak, pengalaman menuntut ilmu di luar akan mendatangkan kesempatan mendapatkan penghasilan yang besar. Lalu untuk apa penghasilan yang besar itu? Untuk bisa uangnya dipakai keliling dunia lagi. Ah, sebuah lingkaran setan dari agama baru bernama turisme.
Berapa banyak manusia yang terjebak dalam lingkaran agama baru ini? ataupun kawan-kawannya seperti agama kekayaan yang nilainya ditentukan berdasarkan nilai asset bergerak maupun tak bergerak. Apakah sedangkal itu makna hidup ini?
Ada pula manusia yang hidupnya didedikasikan untuk kebebasan dan senang-senang. Peace and freedom jargon mereka. Tak perlu kaya, asalkan mereka senang karena hidup hanya sekali kata mereka. Benarkah hidup hanya sekali?
Sudah 24 tahun aku di dunia ini, 11 tahun sejak dosa-dosaku mulai dihitung. Aku pun kembali bertanya di awal usia ini, apa tujuan hidupku?
Apakah aku ingin menjalani hidup ala American dream yang penuh stress di kala kerja dan menghantarkan pada uang dan asset yang banyak untuk digunakan dan dinikmati saat berlibur?
Atau aku ingin menjalani hidup yang bebas leluasa dengan tak banyak terikat uang tapi bahagia di dunia ini?
Sebagai muslim, aku bersyukur karena Quran telah menjelaskan apa tujuan hidup manusia.
Manusia, seperti halnya jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Dan Manusia diturunkan ke bumi ini untuk menjadi khalifah yang memakmurkan bumi. Dua hal yang bila dijalankan dengan baik, niscaya di kehidupan berikutnya akan ada ganjaran yang setimpal. Inilah privelege yang sangat berharga, mengetahui tujuan hidup. Dua tujuan hidup ini sudah mencakup semua motivasi hidup kita.
Bekerja adalah sunnah rasul. Dengan bekerja kita mendapatkan penghasilan yang bisa digunakan untuk kepentingan orang banyak, dan berkarya demi kebaikan dan kemamukran dunia.Tentunya ini hanya terpenuhi dengan pekerjaan yang halal.
Turisme adalah bagian dari mensyukuri dan mentadaburi ciptaan Allah. Dengan melihat ciptaannya yang luar biasa, maka kita akan tersadar betapa hebatnya pencipta dari semua keindahan itu. Ini pun terpenuhi bila kita melakukannya dalam batas yang wajar. Karena tidak berlebihan pun adalah ajaran Islam.
Berdagang, berinvestasi, menyumbang, beramal, berkeluarga, motivasi untuk itu semua tercakup dalam dua tujuan hidup ini.
Dan di usia 24 ini, mari kita jalani hidup dengan selalu mengingat tujuan hidup kita.
Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 4
Pagi hari, sekira 05.30 WIB, Lanang dan Gadis telah berada di dermaga Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ untuk mencari pemandangan terbitnya matahari. Berdasarkan pengamatan akan arah kiblat masjid, maka terambil asumsi bahwa dermaga tersebut menghadap ke arah barat. Oleh karena itu, Lanang dan Gadis, berniat menyusuri pinggiran pantai ke arah yang lebih timur untuk bisa melihat matahari.
“Nang, ayo!udah mulai terang nih!” ajak Gadis agar Lanang mempercepat langkahnya.
Lanang dan Gadis pun menyusuri jalan pinggir dermaga yang masih sepi, hanya ada beberapa manusia yang sedang membersihkan perahu. Ternyata, jalan pinggiran dermaga itu pendek saja, dan di ujungnya terdapat daerah yang berpohon. Mereka pun mengikuti jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak-semak itu. Setelah berjalan sekitar 300 m mengikuti jalan setapak itu, mereka menemukan lagi pantai. Area pasir yang ada di pantai itu hanya beberapa meter saja karena air yang sedang pasang.
Langit semakin terang, Lanang dan Gadis menunggu matahari. Langit tampak berawan. Warna-warna kemerahan sudah terlihat, namun tebalnya awan menghalangi pandangan langsung Lanang dan Gadis menuju matahari terbit. Bagaimana pun, mereka tidak ingin perjalanan mereka tak berarti sehingga mereka tetap melakukan aktivitas utama, berfoto-foto. Baca entri selengkapnya »
Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 3
Sekitar pukul 15.00 WIB, Lanang dan Gadis berada di teras villa, mata mereka memandang ke arah lautan.
“yuhuy!!!” teriak Lanang
Matahari bersinar cerah, dermaga yang tadinya sepi kini telah ramai oleh keceriaan anak-anak yang mengisi sore hari mereka dengan berenang di laut. Lanang dan Gadis pun ingin juga mengisi sore hari ini dengan bermain air dan melihat keindahan alam di sekitar Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’. Mereka pun segera mendatangi kantor pengurus ‘Villa de’Panca’ untuk meminjam alat snorkeling beserta ilmu dan SOP agar mereka bisa melakukan kegiatan snorkeling tersebut.
“Pak, kalau mau snorkeling enaknya di mana, Pak?” tanya Lanang pada seorang pengurus villa.
“Di depan sini juga bisa, lautnya lagi bening. Atau kalau mau yang lautnya agak dalem, bisa ke Pulau Qaria, bisa juga ke penumbuhan terumbu karang, terserah aja. Nanti ada guidenya dari kita,” jawab Bapak tersebut
“alatnya bisa minjem di sini kan, Pak?” tanya Lanang lagi
“oh bisa-bisa, ke belakang dulu aja yuk, kita pilih alatnya dulu aja,” jawab Bapak tersebut.
Mereka pun berjalan ke arah tempat penyimpanan alat-alat snorkeling. Lanang dan Gadis adalah perjaka snorkeling. Mereka tak tahu alat-alat apa saja yang diperlukan untuk snorkeling apalagi cara menggunakannya. Baca entri selengkapnya »
Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 2
“SELAMAT DATANG DI PULAU ‘ORGANISASI BENTUKAN LORD BADDEN POWELL’ PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN ADMINISTRASI KEPULAUAN ‘SECENG’ ” tulisan itu terlihat di papan yang berdiri megah di gerbang Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’. Gerbang masuk itu berupa sebuah dermaga kecil yang terbuat dari kayu-kayu dengan pantai berpasir putih dan laut biru kehijauan menghiasinya. Hujan masih mengguyur pulau tersebut sehingga tak tampak banyak aktifitas terlihat di sekitarnya.
Sebagian penumpang kapal yang bertujuan ke pulau itu pun turun, termasuk Lanang dan Gadis. Lanang pun segera melihat pemandangan yang terhampar di depannya dengan satu tujuan, mencari tempat buang air kecil. Ia pun melihat sebuah masjid yang bisa menolongnya terlepas dari segala penderitaan. Segera ia giring dan arahkan Gadis untuk mengikuti langkahnya menuju masjid itu tanpa banyak ba bi bu. Setengah jalan cepat, sedikit ia tinggalkan Gadis yang sedang sibuk berusaha menelpon orang yang bisa memberikan mereka pencerahan mengenai tempat yang mereka bisa tempati malam itu. Setiba di masjid, langsung ia taruh begitu saja dua tas yang ia bawa dan beradu ke toilet pria. Disalurkannya hasrat yang tertahan itu.
Setelah lepas dari penderitaan, Lanang pun keluar dan mendapati Gadis yang gagal menemukan toilet wanita, untungnya hasrat Gadis masih bisa ditunda.
“gimana Dis? udah ditelpon Mbak Grace-nya?”
“udah-udah, ntar katanya ada orang yang jemput”
Tak berapa lama terlihat orang menggunakan jas hujan datang.
“dari Mbak Grace?” kata orang tersebut
“iya betul,” jawab Gadis
Orang itu pun mengambil tas yang dibawa Gadis (secara sopan, bukan menjambret) dan mengajak Lanang dan Gadis untuk mengikutinya ke penginapan yang ternyata berada dekat sekali dari dermaga. Tak sampai 10 menit berjalan kaki, mereka telah tiba di penginapan bernama ‘Villa de’Panca’ yang terdiri dari beberapa bangunan semacam bungalow bertingkat dua yang terbuat dari kayu. Halaman bungalow tersebut adalah pasir pantai, dan terasnya tentunya berfasilitas pemandangan langsung ke dermaga dan laut. Lanang dan Gadis pun beristirahat sejenak, sembari menunggu Mbak Grace sambil berharap-harap cemas agar hujan mereda. Akitfitas-aktifitas menikmati wisata bahari akan terancam gagal jikalau hujan tak kunjung berhenti. Baca entri selengkapnya »
Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 1
Pagi itu, pukul 06.45 WIB, Lanang dan Gadis berada di dalam sebuah taksi yang sedang berputar-putar di daerah Utara Ibukota Negara Asal Susi Susanti. Tujuan mereka menaiki taksi itu adalah Muara Angke (bukan nama tidak sebenarnya). Lanang selalu berasumsi bahwa Muara Angke adalah daerah yang cukup tenar di kalangan supir taksi “Burung Biru”. Sayangnya, asumsi Lanang memang seringkali salah dan menyesatkan. Seperti hari itu, dengan situasi yang cukup runyam karena berdasarkan info yang didapat dari hasil berkelana di dunia maya, Lanang dan Gadis haruslah tiba di Muara Angke pukul 07.00 WIB untuk menaiki alat transportasi lain untuk pergi ke tujuan lain yang ingin dicapai.
Terhitung sudah tiga kali Bapak Supir Taksi “Burung Biru” nan budiman turun dari mobil untuk mempertanyakan kebenaran adanya Muara Angke sebagai sebentuk pelabuhan yang bisa menyebrangkan Lanang dan Gadis ke lokasi petualangan yang mereka inginkan. Setelah tiga kali itu pula, kini Lanang dan Gadis menghadapi sebuah gapura yang lebih mirip gapura desa daripada gapura sebuah pelabuhan, dengan jam sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Masuk ke dalam pun tak nampak gejala-gejala adanya pelabuhan. Terlihat jalanan yang tergenang air, rusuhnya orang yang lalu lalang, dan sebuah pertanda dekatnya laut yaitu bau ikan. Bapak Supir Taksi pun harus mengeluarkan kembali kemampuan utamanya, bertanya, dan kali ini jawabnya terdapatkan.
“Pak, kalau perahu yang berangkat ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ di mana ya?” tanya Pak Supir
Ladis
Kala itu Maret 2008
Alkisah Lanang seorang karyawan Perusahaan “Habis-habisan” yang berdomisili di Kota Minyak sedangkan Gadis adalah tenaga lulusan segar yang baru saja diterima di sebuah perusahaan bernama “Hari Libur Tetep On” yang merupakan perusahaan oil service langganan “Habis-habisan”. Gadis masih berdomisili di Kota Kembang, sambil sesekali menghabiskan waktunya di Ibukota Negara Asal Susi Susanti
4,5 tahun sejak mereka saling mengenal
6 bulan sejak mereka dekat
5 bulan sejak Lanang hijrah dari Kota Kembang menuju Kota Minyak
2 bulan sejak seharusnya Gadis dan Lanang tak boleh lagi saling mengusik hidup masing-masing Baca entri selengkapnya »
Dia yang Selalu Setia
Ingatkah ketika kita disatukan 5,5 tahun yang lalu?
Dari awal jumpa aku sudah mencintaimu Baca entri selengkapnya »
dongeng masa kecil bocah beralis
Sepenggal cerita yang menolak mati ketika diceritakan kembali oleh Ibunda kepada kakak-kakaknya.
Alkisah bocah beralis baru saja pulang dari sekolah, hari itu adalah hari pertamanya di Sekolah Dasar setelah lulus dengan nilai brilian magna cum laude dari TK (Taman Kanak-Kanak, bukan Teknik Kimia). Layaknya seorang bocah, sepulang sekolah sang anak yang memang bocah menemui ibundanya dan mencium tangannya (tangan Ibunda, bukan tangan si bocah itu sendiri). Sang Ibunda menyambut dengan penuh kasih sayang, ini ketiga kalinya ia berhasil membawa seorang bayi hasil peranakannya sampai ke Sekolah Dasar. Tak ada gading yang tak retak, tak pula sama cerita yang tiap anak bawa setelah hari pertamanya mencapai milestone besar ini.
Bocah ini pun berbeda tentunya, begitu yang orang-orang harapkan karena bocah ini lelaki tak sepertinya dua orang kakaknya. Dialog itu pun dimulai…. Baca entri selengkapnya »
january was nice

So, January was goooooood…. averaging 2.35 MMscfd/m perforation.. it was a good way to spend Indonesia’s money
…hehehe…
and this time I will not forget to say many thanks to my parents, friends, boss…wakakakakaka…
aah, anyway…let’s keep up the good job,
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater…
241208
so next year will be exciting..
let’s make it through..
and get the reward at the end of it..
thanks a lot for the trust Pak, I really appreciate it..


