Hari itu Milik Mereka Berdua (bagian 1)
Suasana hari itu rusuh, panas, macet, dan penuh klakson-klakson emosi. Hari itu adalah hari pertama manusia-manusia di ibukota mulai bekerja. Liburan Lebaran yang panjang dan membuai telah usai. Lanang terjebak di hiruk pikuk kemacetan jalan tol Jakarta. Ya, jalan tol yang seharusnya bebas dari hambatan. Posisi Si Hitam saat ini tidak mengarah ke rumah Gadis yang berada di ujung dunia tersebut. Kemanakah tujuan Lanang? Rumah Gadis.
Setengah jam sebelumnya, Lanang berangkat sendiri dari rumahnya di kawasan Air Pete. Lanang pergi untuk menjemput Gadis. Hari ini mereka berniat bertualang lagi, kali ini berdua saja. Pengetahuan terbatas Lanang yang diikuti dengan kesoktahuan akan arah membuatnya terjebak di daerah antah berantah yang tidak diketahuinya. Dengan bodohnya, Lanang menuju arah yang berkebalikan dengan rumah Gadis.
Sekarang, Lanang sedang menanti pintu keluar tol yang bisa mengembalikan dia menuju jalan yang benar. Di tengah macet itu, Lanang memandangi kotak anting berwarna ungu yang akan ia berikan untuk Gadis di akhir hari ini. Diambilnya sebentuk kartu dan amplop kecil berwarna merah muda. Bagian luar kartu itu bertuliskan kalimat “Don’t Open it Unless it’s For You”. Bagian dalam kartu itu masih kosong tanpa tulisan.
Lanang mengambil sebuah pena yang teronggok manis bertahun-tahun di dalam si Hitam. Ia menarik napas panjang sambil memikirkan kalimat apa yang akan ia tulis. Tangannya mulai menggoreskan pena di bagian dalam kartu.
Kini aku tahu, apa dan siapa yang lebih berharga untukku…..
Lanang memasukkan kartu itu ke dalam amplop merah muda. Ia menarik napas lagi, lalu mulai menulis kembali.
You can open it, it’s for you…
Setelah selesai menulis, Lanang memasukkan anting dan amplop ke dalam dashboard. Konsentrasinya ia kembalikan ke jalanan yang sedari tadi ia lewari dengan kecepatan tak lebih dari 20 km/jam.
Setengah jam kemudian secercah harapan menyeruak ketika pintu keluar tol terlihat. Lanang segera mengarahkan Si Hitam ke luar tol. Begitu ke luar tol Lanang lansung menuju arah yang benar. Ironis sekali karena ternyata arah Lanang mengembalikan Si Hitam melewati titik awal keberangkatannya, yaitu daerah Air Pete tempat rumahnya berada. Sejam dan beberapa liter bensin telah terbuang percuma karena kebodohannya.
Akhirnya Lanang bisa melaju ke rumah Gadis. Waktu yang dibutuhkan dari Air Pete menuju rumah Gadis hanya empat puluh lima menit. Lanang pun sampai juga di rumah Gadis. Lanang disambut oleh Gadis yang mengeluarkan pandangan penuh keheranan.
“Jauh banget ya dari Air Pete ke ujung dunia??”
“Hehehehehee….” Lanang tidak sanggup berkata-kata.
“Dasar…ayo masuk dulu, bilang ke ibuku mau ke mana..”
Lanang memasuki rumah Gadis untuk meminta ijin ke ibunda tercinta Gadis.
“Pagi, Tante…”
“Pagi…aduh, kok bisa nyasar dulu mau ke sini sih…?”
“Hehehe…iya Tante, maklum..saya kan ga pernah bener-bener tinggal di ibukota..jadi ga apal jalan..” Alasan yang sangat sekenanya dari Lanang, mengingat jalan dari Air Pete ke ujung dunia sungguh-sungguh sangat mudah.
“Oh gitu….Gadis, ambilin minum dong….silakan duduk”
Lanang mengambil posisi duduk manis. Ibunda Gadis berjalan mengitari rumah sebelum kembali untuk menemani Lanang mengobrol.
“Mau kemana nih?”
“Biasa tante, jalan-jalan keliling ibukota, sebelum saya pindah ke Kota Minyak. Soalnya saya kan ga pernah bener-benert tinggal di ibukota. Padahal kalau liburan selalu ke sini. Jadi pengen liat tempat-tempat yang saya belum pernah datengin. Mumpung ada waktu”
“Oh…cepet banget ya kamu udah mau kerja aja..di Kota Minyak lagi…”
Obrolan Lanang dan ibu Gadis berlangsung ke berbagai arah. Mulai dari cerita tentang saudara Bapaknya Gadis yang juga bekerja di Perusahaan ‘Habis-habisan’ sampai cerita tentang SMA favorit Kota Kembang yang ternyata juga adalah almamater Ibu Gadis.
Gadis datang membawa segelas minuman dan segera menganggu obrolan akrab yang sedang terjadi antara Lanang dan Ibu Gadis.
“Ayo Nang, pergi..udah siang…”
“Mau ke mana nih??” tanya ibu Gadis pada mahluk yang akan menculik anaknya
“Mau ke Dunia Laut tante..”
“Hah???jauh sekali..”
“iya Tante, saya belum pernah ke sana..ntar mungkin sekalian muter-muter tempat lain juga..”
“oh..ya sudah…ati2 aja….selamat menikmati ibukota ya…”
“Ya..makasih tante…”
Lanang dan Gadis pun berjalan menuju Si Hitam yang terparkir dengan manisnya di depan rumah Gadis. Mereka pun berangkat menuju Dunia Laut yang berada di ujung utara ibukota. Perjalanan menuju Dunia Laut memakan waktu sekitar sejam. Sesampainya di sana, mereka langsung berkeliling melihat berbagai spesies berinsang. Tak lupa mereka mengabadikan momen-momen itu dengan berfoto-foto.
Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat. Seluruh isi Dunia Laut telah mereka jelajahi hingga tiba saatnya melanjutkan perjalanan menuju pelosok-pelosok lain dari ibukota. Lanang dan Gadis sudah duduk manis di Si Hitam ketika tiba-tiba telepon seluler Gadis berbunyi.
“Ya Ma…kenapa…?”
“bslkvbsvs….sndsvslvnlsnlvs…..”
“eh, jadi Mama udah beliin anting??lah..Gadis kan belum liat..kalau ga cocok gimana?”
“dannlalnaldadnfafdlalfdajla…..”
“ya udah deh…terserah Mama aja…”
Lanang tertohok mendengar kata-kata yang Gadis ucapkan. Ternyata, Ibu Gadis telah membelikan anting untuk dipakai Gadis di hari wisuda. Rencana Lanang terancam gagal total.
“mmm…Dis, ibumu dah beliin anting…?”
“ya…dua…kata ibuku kalau nanti ga cocok sih, buat ibuku aja hehehehe…niat ibuku perlu diragukan…hehehe..”
“ooh…mmm…”
“kenapa Nang…?”
“eh…gpp…”
Lanang tiba-tiba terdiam berpikir tanpa menyalakan mesin Si Hitam.
“Nang?kenapa?kok ga bergerak??”
“Eh…mmm…duh…gimana ya??”
“Apaan…?”
“Itu dis…mmm….anting….”
“kenapa dengan anting??”
“jadi Dis…itu..anting yang aku beli…mmm…”
“kenapa?”
“aku mau kasiin buat kamu…”
“eh?” sekarang giliran Gadis yang terdiam.
Lanang pun mengambil anting dan kartu yang tersimpan di dashboard Si Hitam.
“Ini Dis…buat kamu..”
Gadis pun melihat kotak berwarna ungu. Kotak itu terikat dengan pita berwarna ungu muda. Lanang mengikat pita itu dengan cara yang telah Gadis ajarkan. Gadis pun membuka amplop dan membaca tulisan di kartu. Ia semakin terdiam.
“mmm….makasih ya Nang..”
Kini, mereka berdua terdiam.



haha..tampak ada sedikit korelasi pada blog ini dan blog yg lain..hehe
pagilucha
Januari 13, 2008 at 2:04 am
hehehe.tapi oke boss gpp terusin aj…
*saya punya cerira dewasa*
lahapasi
Januari 13, 2008 at 12:27 pm
ahahhahaha.. so antingnya dipake ga pas wisuda??
asthary
Februari 10, 2008 at 1:36 am
kira2 tih??
dimaskodri
Februari 10, 2008 at 8:26 am