Kataku KODRI

cerita saya dalam kata-kata, isinya…. ya liat aja sendiri

Perubahan Fasa (bagian 2)

with 12 comments

Lanang melihat ke arah pemandangan kota Kembang malam hari yang ada di depan matanya. Ia kini berada di sebuah restoran di daerah utara Kota Kembang bersama teman-teman SMA-nya. Sebut saja Si Kadal, Si Pekat, dan Si Bodo. Mahluk-mahluk yang tak seperti manusia normal ini adalah sahabat sejati Lanang sejak 7 tahun lalu. Mereka asyik bercengkrama, tertawa, dan saling menghina, kegiatan yang selalu mereka lakukan ketika kumpul bersama.

Lanang berpikir bahwa menghabiskan waktu bersama mereka bisa mengalihkan pikirannya dari kesedihan karena tidak bisa bersama Gadis. Lanang salah. Ia memang sangat menikmati waktu bersama sahabat-sahabatnya ini, tetapi pikirannya tidak bisa sepenuhnya lepas dari Gadis. Setiap 5 menit otaknya secara rutin mengingat Gadis.

Di tengah-tengah tawa keempat mahluk itu, tiba-tiba terdengarlah suara lolongan serigala, pesan singkat masuk ke telepon selular Lanang.

Aah, aku sebal, aku g jadi pergi mkn sama dia karena tiba2 dia harus pergi. jd aku mkn ma mantan kahim dkk (maap ya nang). trus si Iwang g bawa mobil jadi bakal naek angkot nih.

“Eh?yah?kok jadinya gini…?”

Di satu sisi Lanang kecewa karena ternyata Gadis pergi bersama teman-teman ‘Sebelum SD’ sedangkan Lanang tidak. Namun, di sisi lain Lanang senang karena rasa cemburunya hilang.

Ooo gitu…eh Dis?katanya kamu mau komen tentang tulisanku??jadi ga??kapan ya??

Lanang berharap bisa bertemu Gadis malam ini karena ia sadar waktu mereka tak banyak. Namun, ia merasa tidak enak untuk mengajak langsung karena hari sudah cukup malam. Entah akan semalam apa apabila mereka bertemu malam ini juga mengingat mereka masih punya acara masing-masing.

Mm…drtd aku jg mikir itu, aku kan belum komen..mo ntar mlm ktmuan?

“yeah…”

Lanang gembira karena kali ini respon Gadis sesuai keinginannya.

gpp ketemuan malem ini Dis?kan udah malem…aku jg masih sama temen2…dan belum akan selesai dalam waktu dekat..

Pesan singkat Lanang ini hanyalah merupakan basa-basi dari Lanang. Ia sangat-sangat menginginkan pertemuan malam ini terjadi. Walaupun tidak ada kepentingan untuk membahas tulisan pun, Lanang akan sangat senang untuk bertemu karena pada dasarnya ia memang ingin menghabiskan sisa waktunya di Pulau Jawa yang tak banyak itu bersama Gadis.

Mm,gpp,Lanang pergi dulu aja ma tmn2 Lanang, aku jg br mo pergi ni..ntar kabarin aja, klo aku dah pulang duluan, aku tunggu d kos aja..Paling jam 10an aku di kosan

“baiklah…” Lanang tersenyum.

Lanang kembali melanjutkan proses percengkramaannya dengan Si Kadal, Si Pekat, dan Si Bodo. Suasana restoran yang mereka sambangi ini memang sangat romantis. Sangat cocok untuk dihabiskan oleh sekumpulan sahabat yang sangat suka saling menghina dengan bahan ejekan utama berupa aib-aib masa lalu masing-masing orang.

Jam 10 pun tiba. Keempat mahluk unik tersebut pun pergi meninggalkan TKP. Berhubung Si Pekat adalah salah satu penghuni rumah Lanang, maka ia dan Lanang menaiki Si Hitam untuk bersama-sama pulang menuju rumah Lanang. Si Kadal dan Si Bodo pergi dengan kendaraan lain menuju arah yang berbeda.

Sesampainya di rumah, Lanang tidak memasukkan Si Hitam ke dalam garasi.

“Nang, teu diasupkeun wae Si Hitam?”

“Henteu, aing rek indit deui..”

“naha?kamana?”

“aya we lah moal beja-beja..”

“najis..introvert pisan maneh…”

“hahaha…”

Lanang pun membiarkan Si Hitam terparkir di luar rumahnya. Ia dan Si Pekat pun segera memasuki rumah. Si Pekat langsung ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur, sedangkan Lanang mengambil posisi gundah gundala menanti kabar dari Gadis.

Tak seperti tadi sore, maghrib, ataupun tadi malam, kali ini waktu terasa berjalan sangat lambat. Lanang menyalakan televisi. Dengan gerakan yang konstan, ia mengganti saluran televisi setiap 10 detik sekali. Matanya menatap kosong ke arah televisi.

Jam tangan Lanang telah menunjukkan pukul setengah 11. Lanang pun mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dengan Gadis.

Dis, dah di mana?

Ini udah mau jalan pulang Nang. Bentar lagi, masih foto-foto dulu di depan mall dengan ga pentingnya.

Lanang kembali menanti. Pukul 22.45 WIB, akhirnya Lanang memutuskan untuk pergi dari rumah. Alasan pertama adalah agar bisa segera bertemu Gadis. Alasan kedua adalah karena Lanang tidak tahan dengan suara mengorok yang Si Pekat keluarkan dengan ukuran desibel yang sangat mengganggu telinga. Alasan ketiga adalah rasa gelisah yang ia rasakan apabila terus berdiam diri di rumah. Alasan kedua dan ketiga lebih berpengaruh, alasan pertama belum teruji kesignifikanannya.

Lanang pun segera melaju bersama Si Hitam ke daerah Air Situ. Tak jauh jarak yang harus ia tempuh baik secara kilometer mau pun secara menit tempuhan. Gadis pasti akan pulang bersama Iwang sehingga Lanang memutuskan untuk memarkirkan Si Hitam di tempat yang tidak terlalu terlihat. Lanang harus mengambil tindakan ini agar Iwang tidak berpikir macam-macam atau pun menyebarkan huru hara fitnah dan isu tentang Lanang dan Gadis. Terlepas dari benar tidaknya fitnah dan isu yang mungkin Iwang keluarkan tersebut.

Safety first…” pikir Lanang

Nang, aku udah di kosan nih..kamu dah jalan belum?

1 menit lagi aku ke sana…

Lanang segera menyalakan Si Hitam dan melaju ke kosan Gadis yang hanya berada satu belokan dari tempat Si Hitam terparkir. Tanpa Lanang duga, ternyata Iwang baru saja berjalan menuju arah tempat tinggalnya. Hal ini berarti mereka terpaksa berpapasan saja. Gadis pun nampaknya merasa sedikit canggung. Mungkin ia tidak memperkirakan bahwa Lanang akan muncul secepat itu sehingga ia datang saat Iwang masih ada di sekitar tempat tinggal Gadis.

“ah damn, masih ada si Iwang…waduh…repot nih..”

Lanang terus melaju dan memutarkan Si Hitam di salah satu celah putaran yang tersedia. Lalu ia membuka kaca mobil dan menyapa Iwang dengan tetap berusaha mempertahankan kondis tubuh pada temperatur rendah (atau kata kerennya tetap cool).

“Eh, Wang…baru balik lu?” pertanyaan retoris, bodoh, dan tidak signifikan

“Iya, nah lu mau ke mana?” tanya Iwang sambil memasang tampang culas, menyebalkan, dan penuh arti.

“Jalan-jalan aja, biasalah…anak muda…” jawab Lanang seadanya.

Iwang pun melanjutkan langkahnya menuju arah tempat tinggalnya, sedangkan Lanang memarkirkan Si Hitam di depan tempat tinggal Gadis.

“Hey Dis..”

“Hey Nang, aku masuk bentar ya…bentar doang kok..kamu mau masuk apa nunggu di luar aja?”

“di luar aja Dis..”

Lanang pun menunggu beberapa saat. Gadis pun keluar tak lama kemudian dan mereka segera menaiki Si Hitam.

“Jadi? mau ke mana kita Dis?”

“ga tau…jalan aja dulu…hehehe…”

“mm..Dis…kirain aku tadi si Iwang udah pergi…”

“ya aku ga nyangka juga kamu muncul secepet itu..”

“hooo….mmm..si Iwang mikir apa ya??”

“tau deh…”

Lanang dan Gadis pun saling berpandangan dan tertawa-tawa kecil. Mereka menyadari bahwa Iwang memiliki tendensi untuk menyebarkan isu-isu yang kebenarannya patut diragukan. Walaupun di sisi lain juga isu yang mungkin Iwang sebarkan juga mungkin tidak sepenuhnya salah.

Si Hitam terus bergerak menjelajah tak tentu arah.

“Dis, kita mau ke mana nih??”

“duh..ga tau…hmm…ini kan hari kerja..tempat apa yang masih buka jam segini..”

“hmm..tempat macam apa yang masih buka jam segini ya?”

“duh…dikit kali…kalau di sekitar sini mah…”

“iya..duh..”

Gadis mulai berpikir, sedangkan Lanang mulai pura-pura berpikir.

“kecuali kita ke….Kabupaten Kembang??”

“weits…serius Dis…jauh amat…sekarang kan udah malem..”

“yah, mau ke mana lagi…kalau di sana kan masih banyak tempat-tempat nongkrong yang buka sampe pagi..”

“hmm, ya udahlah toh aku juga sebaiknya mengunjungi Kabupaten Kembang sebelum aku pindah ke Kota Minyak”

“jadi?ke sana nih…”

“lah, kok pake nanya lagi kan kamu yang usulin Dis..”

“hehehe…iya iya…”

Si Hitam pun terus melaju ke arah utara menuju Kabupaten Kembang yang merupakan dataran tinggi, dingin teramat dingin, dan berkabut. Sambil mengemudi Lanang terus berpikir. Ia memikirkan kata-kata apa yang harus ia sampaikan ke Gadis. Entah apa yang ada di pikiran Gadis saat ini. Entah apa pula yang akan terjadi malam (atau pagi?) ini di antara mereka berdua.

Written by dimaskodri

Januari 30, 2008 pada 10:40 pm

Ditulis dalam cerpenbung

Ditandai dengan

12 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dimas, aku baru baca selengkap2nya. Hoho.. bagus2.. ayo lanjut2.. hehe.

    Dewi

    Januari 31, 2008 at 5:39 am

  2. mas, ngapain harus dua mobil kalo cm berempat? kurang kerjaan amat sih lanang dan teman2nya.. apakah mereka memang sering melakukan hal2 yang tidak berguna seperti itu? hahahahaha..

    *masuk kantor kepagian jadi komen2 dulu lah. hehehe..

    angga

    Januari 31, 2008 at 8:58 am

  3. wooow…sangat penasaran dgn ceritanya selanjutnya…
    Lanang nya juga agak2 bertindak kurang cerdas..
    Iwang dan Gadis kan berada pada area tempat tinggal yang sama, hrsnya memperhatikan faktor tersebut. Untung iwang ngga nyanyi Ketauan-Matta Band…

    O..o..kamu ketauan…

    cabindut

    Januari 31, 2008 at 1:48 pm

  4. hmm pasti 2 orang itu naik motor!

    fikri Anggara Putra

    Februari 1, 2008 at 8:59 am

  5. semakin seru.. tampaknya klimaksnya sebentar lagi ya.. hehe

    jelita alamanda

    Februari 3, 2008 at 11:31 am

  6. anjir,
    gua menuntut adanya pembenaran redaksi,

    “Iya, nah lu mau ke mana?” tanya Iwang sambil memasang tampang culas, menyebalkan, dan penuh arti.

    setau gua, iwang hanya memasang senyum penuh arti. tertawa-tawa kecil. dan tak lupa meledek sang gadis via layanan pesan singkat.

    that’s it.

    tanpa culas, dan tanpa tampang menyebalkan tentunya.

    ydoea

    Februari 4, 2008 at 4:02 pm

  7. lanang kayake sentimen sama iwang…
    saingan nang? wang?

    linda

    Februari 5, 2008 at 9:46 pm

  8. met
    bukan Lanang yang kurang cerdas..melainkan Gadis…mengingat komando datang dari Gadis..jadi bukan salah Lanang tiba2 ada sesosok Iwang di sana

    yan
    senyum penuh arti itu bisa berarti culas, dan bisa pula jadi menyebalkan..

    lin
    tidak ada itu namanya persaingan..maneh ulah memancing di air keruh gitu dong lin..justru Iwang seringkali cukup kooperatif…hahahaha

    dimaskodri

    Februari 5, 2008 at 11:38 pm

  9. hoi,
    naha belum dipublish-publish bagian tiganya?
    gua mau komentar nih, nanggung dah baca masa ga komen.

    ydoea

    Februari 8, 2008 at 11:34 am

  10. bentar yan..
    editan terakhir masih menunggu approval dari yang berwenang…
    yang berwenangnya malah nyalon dulu bukannya buru2 ke kampus..

    dimaskodri

    Februari 8, 2008 at 11:38 am

  11. wakakkakakak.. yan, kok komentarnya dari hati gitu sih?? hakhakhakhak.. dan bukannya ini fiksi ya? kok si yan yan ky tau sih mas si iwang ini? hohohohohoho

    asthary

    Februari 10, 2008 at 3:27 am

  12. tih..
    silakan bertanya pada pihak yang bersangkutan..
    hehehe…:D

    dimaskodri

    Februari 13, 2008 at 4:27 pm


Tinggalkan Balasan