Kataku KODRI

cerita saya dalam kata-kata, isinya…. ya liat aja sendiri

Blunder Lanang di Toilet

with 14 comments

Pagi hari itu, Lanang tiba di CPU setelah 4 hari mengambang di laut. Perjalanan dari barge yang terparkir di sumur Yamamba-14 menuju CPU ia tempuh menggunakan seatruck selama lebih kurang 1 jam. Setibanya di CPU ia segera menuju kantor divisi Well Service untuk melapor.

Setelah sampai di kantor Well Service, ia langsung melapor kepada supervisor well service dan mengobrol dengan orang-orang divisi tersebut.

Tak berapa lama, Lanang merasakan gejolak-gejolak pergerakan di dalam perutnya. Lanang harus melakukan proses offloading sisa pencernaannya. Lanang pun segera mencari toilet terdekat. Sayangnya, toilet yang terletak di kantor well service tidaklah kondusif untuk dihinggapi dengan nyaman sehingga Lanang mencari toilet lain yang lebih prima. Lanang pun bergerak menuju toilet yang terletak di dekat ruang makan. Kali ini ia berhasil. Sebuah toilet yang mumpuni dengan wastafel, tempat buang air kecil, dan dua bilik tempat offloading sisa pencernaan. Toilet tersebut amat bersih dan nampak jarang dihinggapi manusia ataupun hewan. Lanang pun memutuskan untuk melakukan proses offloading di toilet ini.

Masuklah Lanang ke dalam bilik itu dan dengan kecepatan tinggi ia mengambil posisi duduk untuk melepas segala beban yang tak kuasa lagi ia tahan. Singkat cerita, Lanang berhasil menguras isi perutnya saat itu.

Tibalah saatnya untuk Lanang keluar dari bilik dan kembali menuju peradaban manusia. Namun akan tetapi entah mengapa bagaimana ini bisa terjadi, pintu tersebut tak bisa dibuka.

“Eh…si anjis…naha ieu panto teu bisa dibuka?” ucap Lanang dalam hati (ucapan dengan lisan akan sia-sia karena tak ada pasang telinga selain yang menempel di kepala Lanang yang akan mendengarnya).

Lanang pun terus berusaha keras untuk membuka pintu tersebut. Namun, segala daya upaya tak berhasil. Bahkan ia sempat mencoba mendobrak pintu tersebut dengan tubuh kepala 7-nya (ya kepala 7, bukan kepala 8). Akan tetapi, ketiadaan ruang kosong untuk berlari mengambil ancang-ancang membuat upayanya sia-sia.

“damn damn damn!!!!” maki Lanang dalam hati, otaknya mulai memikirkan berita di koran tentang hilangnya seorang karyawan ‘Habis-habisan’ bagai ditelan bumi tanpa diketemukan jejak. Berita tersebut mungkin akan mendapat perhatian bak hilangnya pesawat terbang di tengah lautan.

Tapi Lanang tidak semudah itu menyerah. Percuma saja, Lanang memiliki gelar sarjana teknik dan susah payah merantau ke Kota Kembang di usia 15 tahun andaikan rintangan seperti ini menghentikan segala cita-citanya. Lanang pun mulai melihat medan yang ia hadapi. Ia memikirkan bagaimana cara memanfaatkan perkakas-perkakas yang tersedia di ruangan itu untuk dapat meloloskan diri.

Tidak sia-sia Lanang mendapatkan kuliah Perancangan Mekanik Bejana, Mekanika Fluida, dan Pengetahuan Lingkungan ketika ia kuliah. Semua itu membantunya dalam merangkai strategi the great escape untuk kabur dari penjara bilik toilet tersebut.

Secercah cahaya terlihat dari bagian atas tembok pembatas bilik tersebut. Sekarang, ia tinggal memikirkan bagaimana mencapai celah tersebut. Tidak mudah karena celah tersebut cukup sempita dan berada cukup tingg. Secara fisika, tidak mungkin Lanang meloncat dan mengangkat tubuhnya. Alat bantu yang bisa digunakan adalah kloset. Lanang pun menaiki kloset tersebut. Sayang sekali tinggi tubuhnya belum cukup untuk menggapai celah tersebut. Pandangan Lanang pun tertuju pada dudukan hand shower yang terletak di samping kloset. Ukuran dudukan hand shower itu teramat kecil sehingga Lanang cukup meragukan daya tahannya. Namun, tak ada jalan lain. Lanang pun melakukan simulasi dengan menjejakkan kaki kirinya di dudukan hand shower tersebut dan kaki kanannya di kloset. Untuk bisa mencapai celah di atas, Lanang harus melakukan gerakan yang mirip wall climbing. Ia harus mengangkat kaki kanannya dan menaikkan seluruh massa tubuhnya dengan menggunakan kekuatan jemari dan ayunan tubuh.

Lanang memutuskan bahwa ia akan mencoba cara tersebut. Pertaruhan terbesar akan terjadi ketika massa tubuhnya hanya bergantung pada secuil dudukan hand shower tersebut. Lanang pun menaikkan tasnya yang berisi laptop dan tidak boleh dibanting sembarangan ke celah tersebut (patut diingat bahwa membawa tas ke dalam bilik toilet bukanlah tindakan yang bijak karena dapat mempersulit proses great escape andaikata pintu toilet tersebut terkunci dan tak bisa dibuka).

Dan Lanang pun melakukan skenario yang sudah ia pikirkan tersebut. Dijalankan satu per satu langkah yang ia rencanakan.

“bismillah….1….2…..3….”

Lanang pun mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil mencapai celah sempit itu. Ia berada dalam posisi tiarap merayap karena celah yang tersedia amat sempit bahkan tidak ada ruang baginya untuk mengambil posisi duduk. Ia pun segera bergerak menuju bagian depan tembok.

“eh….emmm…kok tinggi ya????”

Lanang ternyata tidak bisa dengan serta merta meloncat ke bawah karena ketinggian yang ada cukup mengerikan. Akhirnya ia menurunkan perlahan-lahan bagian tubuh bawahnya, dan bersiap-siap menyokong kembali massa tubuhnya dengan kekuatan tangannya agar jarak vertikal tubuhnya ketika turun tidak terlalu jauh. Ia pun melepas genggamannya dan meloncat.

“baaaammmmmm” suara sepatu safety yang beradu dengan ubin terdengar keras.

Lanang langsung lesu. Kecepatan landing-nya cukup tinggi sampai-sampai ia merasa akan menderita hernia. Segara ia mengambil tasnya dan mencari tempat duduk. Cukup sudah aksi fisiknya hari ini. Lanang lelah, tapi bangga karena ternyata dengan tubuh rentanya ia masih bisa melakukan aksi fisik yang mantap memang.

Lunar binasa memang si Lanang.

Written by dimaskodri

Maret 28, 2008 pada 1:01 am

14 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. duh,, aya-aya wae!!

    eka

    Maret 29, 2008 at 10:04 am

  2. lu yakin lu buka pintunya ga salah arah kan mas?? siapa tau harusnya ditarik malah lu dorong hehehe..

    jelita alamanda

    Maret 29, 2008 at 12:53 pm

  3. kok ga nelpon orang mas?

    pman

    Maret 29, 2008 at 9:52 pm

  4. Kenapa sih semua orang nanya gua???
    ini kan cerita si lanang…
    jadi..
    si lanang ga punya nomer orang yang berada di CPU pada waktu itu..
    jadi emang ga yang feasible untuk dimintai bantuan…

    dimaskodri

    Maret 30, 2008 at 12:05 am

  5. Dasar raja blunder..

    Saras

    Maret 31, 2008 at 2:29 pm

  6. haha bener tuh si raja blunder si lanang. gak kaya gw yang jarang blunder.cuma mempengaruhi orang2 biar blunder.

    Eh.. bilang ke silanang dong, bikinin versi bergambarnya biar keliatan kondisi wc dan jalur melarikan dirinya. siapa tau saya salah imajinasinyah!!

    fikri

    Maret 31, 2008 at 10:24 pm

  7. gila pengalaman si lanang
    gue pikir hal-hal kayak gini cuma terjadi di film2 komedi konyol atau aksi-aksi spionase Mas
    ternyata di rig Habis-Habisan juga ada hehehe …

    btw gak ada saksi mata yang menyaksikan Lanang lompat kah?

    guciano

    April 1, 2008 at 3:00 pm

  8. fik, si lanang dengan bodohnya lupa memfoto kondisi WC dan jalur melarikan diri, padahal dia bawa kamera di dalam tasnya…

    ojan…ini bukan di rig sih…malah jauh dari rig…tempatnya gede gitu kok,…cenderung lunar binasa…

    dimaskodri

    April 2, 2008 at 10:47 am

  9. eh jadi kesimpulannya si lanang bisa keluar apa kagak??? gimana caranya dia bisa keluar dan akhirnya menulis post ini??

    michaeljubel

    April 6, 2008 at 1:54 am

  10. ouch.. my balls hurts…

    rama

    April 11, 2008 at 11:26 am

  11. Oiy urang minggu ieu ka balikpapan…traktir siahh…hehehe…

    fabianologi

    April 11, 2008 at 1:05 pm

  12. ck ck ck.. bener2 kaya di pilem2 kak dim..

    warna warni duniaku

    April 16, 2008 at 9:32 am

  13. untuuuung aja si lanang dah buang hajat…

    bayangkan apabila si hajat masih dalam perut, dan pintu tak bisa dibuka…

    *membayangkan*

    cabindut

    April 18, 2008 at 6:12 pm

  14. bukan ini cerita yang pengen gw dengar mas…

    season 2 please…

    Linda

    April 19, 2008 at 11:27 am


Tinggalkan Balasan