dongeng masa kecil bocah beralis
Sepenggal cerita yang menolak mati ketika diceritakan kembali oleh Ibunda kepada kakak-kakaknya.
Alkisah bocah beralis baru saja pulang dari sekolah, hari itu adalah hari pertamanya di Sekolah Dasar setelah lulus dengan nilai brilian magna cum laude dari TK (Taman Kanak-Kanak, bukan Teknik Kimia). Layaknya seorang bocah, sepulang sekolah sang anak yang memang bocah menemui ibundanya dan mencium tangannya (tangan Ibunda, bukan tangan si bocah itu sendiri). Sang Ibunda menyambut dengan penuh kasih sayang, ini ketiga kalinya ia berhasil membawa seorang bayi hasil peranakannya sampai ke Sekolah Dasar. Tak ada gading yang tak retak, tak pula sama cerita yang tiap anak bawa setelah hari pertamanya mencapai milestone besar ini.
Bocah ini pun berbeda tentunya, begitu yang orang-orang harapkan karena bocah ini lelaki tak sepertinya dua orang kakaknya. Dialog itu pun dimulai….
ibunda bocah beralis (IBB) : gimana Nak di sekolah?
bocah beralis (BB) : aku punya temen balu ma, bukan dari TK Kujang
IBB : oya? siapa namanya, Nak?
BB : Eyik (nama aslinya Eric -Trisakti, bukan Zaugg-, tapi si bocah beralis belum bisa mengucapkan huruf “r” sampai kelas 2 SD)
IBB : ooo, baik anaknya?
BB: mmm, baik sih Ma, tapi kasian deh dia Ma
IBB : kenapa emangnya Nak?
BB : masa ya Ma, si eyik itu kecil-kecil udah Cina.
……dan sang Ibunda pun hilang dalam lautan tawa tanpa batas, meninggalkan bocah beralis dengan kebingungan dan prasangka buruk betapa Ibundanya tak memiliki empati terhadap nasib teman barunya…..
* mohon maaf teman-teman yang keturunan Tionghoa, saya ga bermaksud sama sekali untuk mengejek, menghina, ataupun merendahkan, ini hanyalah kisah nyata dari seorang bocah beralis (yang ternyata dalam hidupnya justru sempat merasakan bermain basket di Klub yang mayoritas berisi teman-teman keturanan Tionghoa, dan sempat disangka warga keturunan juga karena matanya yang relatif sipit dan kulitnya yang relatif putih pula)

si bocah beralis



weh ngomongin milestone, jadi inget sesuatu ya mas…
maneh nya ti leuleutik naha geus rasis kitu? batur mah asa smp karek rasis, maneh ti TK keneh?
Linda
Februari 20, 2009 at 10:44 am
SD!!!SD!!!lain TK…
jangan fitnah aku!!
dimaskodri
Februari 20, 2009 at 11:11 am
lah pan maneh kakarak lulus TK, terus asup2 ka SD geus bisa ngomong kitu
pasti mimitina ti TK!
lindawatirahaju
Februari 20, 2009 at 11:14 am
ah elo ga konsisten dim.
balu. dari. eyik.
masa Rnya beda semua spellingnya. revisi!
ydoea
Februari 21, 2009 at 3:46 am
kalau masalah balu dan eyik begitu adanya memang.
gua jg ga ngerti, kalau seinget gua, cadel gua mengarah pada huruf ‘l’, tapi tiap nyokap gua nyeritain ini, pasti dengan objek penderita bernama eyik…
kalau masalag dari itu masalah khilaf yang orisinil saja..
dimaskodri
Februari 21, 2009 at 6:31 am
eh btw. blogroll gue diupdate lah. serius ini.
ydoea
Februari 21, 2009 at 11:37 am
dasar alis…kekeke..
natashasamosir
Februari 21, 2009 at 12:14 pm
mata lu ga sipit mas, cuma alis lo ajah yg extremely tebel, hahaha…
Haris FaBiaN
Maret 8, 2009 at 2:46 pm