Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 1
Pagi itu, pukul 06.45 WIB, Lanang dan Gadis berada di dalam sebuah taksi yang sedang berputar-putar di daerah Utara Ibukota Negara Asal Susi Susanti. Tujuan mereka menaiki taksi itu adalah Muara Angke (bukan nama tidak sebenarnya). Lanang selalu berasumsi bahwa Muara Angke adalah daerah yang cukup tenar di kalangan supir taksi “Burung Biru”. Sayangnya, asumsi Lanang memang seringkali salah dan menyesatkan. Seperti hari itu, dengan situasi yang cukup runyam karena berdasarkan info yang didapat dari hasil berkelana di dunia maya, Lanang dan Gadis haruslah tiba di Muara Angke pukul 07.00 WIB untuk menaiki alat transportasi lain untuk pergi ke tujuan lain yang ingin dicapai.
Terhitung sudah tiga kali Bapak Supir Taksi “Burung Biru” nan budiman turun dari mobil untuk mempertanyakan kebenaran adanya Muara Angke sebagai sebentuk pelabuhan yang bisa menyebrangkan Lanang dan Gadis ke lokasi petualangan yang mereka inginkan. Setelah tiga kali itu pula, kini Lanang dan Gadis menghadapi sebuah gapura yang lebih mirip gapura desa daripada gapura sebuah pelabuhan, dengan jam sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Masuk ke dalam pun tak nampak gejala-gejala adanya pelabuhan. Terlihat jalanan yang tergenang air, rusuhnya orang yang lalu lalang, dan sebuah pertanda dekatnya laut yaitu bau ikan. Bapak Supir Taksi pun harus mengeluarkan kembali kemampuan utamanya, bertanya, dan kali ini jawabnya terdapatkan.
“Pak, kalau perahu yang berangkat ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ di mana ya?” tanya Pak Supir
“Oh, parkir sini aja, masuk ke gang itu,” jawab seorang Bapak yang perannya tak jelas sambil menunjuk ke sebuah lorong yang jalannya tergenang air semata kaki.
Lanang masih belum yakin, karena masih tak terlihat gejala-gejala adanya pelabuhan di balik jalan itu.
“Pak, ikut sampai perahu aja ya Pak, takutnya perahunya udah berangkat atau gimana, ntar susah nyari taksi lagi,” pinta Lanang pada Bapak Supir Taksi.
Maka, Lanang dan Gadis pun mengambil barangnya dari taksi dan berjalan ke arah lorong itu dengan didampingi Supir Taksi penyedia jasa backup plan. Mereka pun tiba di ujung lorong, dan terlihatlah sekarang bahwa pelabuhan yang ada pun tak seperti pelabuhan yang Lanang bayangkan atau pun yang biasa ia temui di Kota Minyak. Pelabuhan itu hanya ibarat pinggiran jalan yang langsung berbatasan dengan laut. Tak ada kapal besar, tangker, feri, ataupun kapal penarik batu bara. Hanya ada deretan perahu tradisional yang digerakkan propeller dengan badan terbuat dari kayu. Efisiensi tinggi diperlihatkan dengan memanfaatkan bagian penutup kapal sebagai tempat penumpang.
Seorang yang bertindak sebagai semacam kenek kapal segera menginstruksikan Lanang dan Gadis untuk naik ke bagian atas kapal. Tanpa berpikir panjang (pikiran panjang bisa berakibat pada perhitungan resiko dan keamanaan kapal yang mungkin berujung pada batalnya petualangan ini), Lanang dan Gadis pun menaiki kapal tersebut. Setelah menunggu beberapa penumpang lain, kapal pun mulai bergerak meninggalkan Muara Angke. Sayup-sayup terdengar suara pelelangan ikan yang memberikan efek dramatis.

diatas ojek perahu
Tujuan Lanang dan Gadis tak lain dan tak bukan adalah Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’, salah satu pulau di gugusan kepulaun ‘Seceng’. Mereka mendapatkan info tentang pulau ini dan segala macam keindahan yang ditawarkannya dari perseluncuran di dunia maya. Perjalanan menggunakan perahu ini akan ditempuh selama lebih kurang 3 jam.
Lanang dan Gadis begitu antusias, mereka berbincang-bincang di atas kapal sambil menikmati angin laut dan goyangan yang tercipta di kapal. Namun, itu tak berlangsung lama karena Gadis cepat sekali mengeluarkan jurus mautnya, tidur di mana pun dia berada. Tinggalah Lanang terjaga sendiri. Petaka pun datang, Lanang ingin buang air kecil. Perasaan yang awalnya tak seberapa, meningkat secara konstan dengan waktu sampai pada tahap tersiksanya Lanang. Akan tetapi, tak ada fasilitas yang bisa menampung hasrat Lanang itu. Lanang pun mulai bergerak-gerak mengatur posisi duduknya agar dapat menahan hasrat itu, perjalanan masih begitu jauh.
“aduh aduh..gimana nih…fokuskan pikiran pada hal lain!!” pikir Lanang dalam hati.
Lalu, Lanang mulai mencoba mencari hal lain yang ia harapkan bisa mengalihkan perhatiannya. Ia mulai melihat sekeliling. Pandangannya kini ada sekira 1 Meter di sebelah kanannya. Nampak seorang Bapak, bertubuh kurus, berkumis tipis, berkacamata bingkai tebal, bertopi, dan memiliki rambut panjang melebihi bahu sedang menelpon. Iseng-iseng, Lanang pun mendengarkan Bapak yang memang berbicara dengan suara keras itu.
“Fran, kalau boleh tahu, siapa sih anggota yang menggagalkan misi kita di Sibolga itu? kau sebutkan saja siapa namanya? kau kan teman saya paling cs dari tim sibolga Fran,” kata Bapak itu. Lanang mulai tertarik dengan isi pembicaraan.
“Jadi si kolonel itu ya?Fran, kau bilang sama si kolonel itu, diri saya ini masih mampu bersabar, tapi rasa kecewa karena nama baik Saya ini jadi rusak pasti ada. Dan diri saya ini cuma bisa bersabar sebatas kemampuan fisik dan diri saya saja. Kau kan paling tau diri saya pribadi Fran. Saya ini kalau jahat ya jahat sejahat-jahatnya orang, tapi kalau saya dibaikkin orang, maka seluruh harga diri saya ini ya bisa saya korbankan,”
Lanang sedikit tergelitik karena gaya bahasa orang tersebut yang cukup hiperbolis dan mengambil keputusan untuk terus menyimak.
“Orang seperti itu harus diberi pelajaran sekali-sekali Fran! Pasti dia punya kelemahan kan sebagai pria. Apakah di sebotol minuman, meja judi, atau wanita cantik. Coba kau ajak dia minum sampai dia mabuk, masukkan ke dalam karung yang di isi batu, tenggelamkan hidup-hidup! Kalau mau tangan kita bersih, kita suruh teman-teman gang di Sibolga kan, mudah aja itu kan Fran, paling kita bayar saja. Gitu kan Fran? Kau tau sendiri kan bagaimana diri saya pribadi ini bisa jadi orang yang paling jahat!”
Lanang mulai tidak menganggap ini lucu. Dilihatnya Gadis di sebelahnya yang ternyata setengah sadar dan nampak juga menyimak kata-kata Bapak itu.
“Fran, kalau aku ini tidak menghargai kau sebagai cs ku di sana, sudah kukirim santet ke kolonel itu. Butuh uang berapa sih untuk mengirimkan santet dari pulau sini ke sibolga? Cuma aku ini sabar karena kau saja Fran. Coba tolong kau sampaikan pada kolonel itu ya”
Lanang melihat ke Gadis kembali, dan mereka tidak bersuara karena sedikit mengalami ketakutan. Gadis pun memilih untuk kembali memejamkan mata.
Rasa ingin buang air kecil Lanang benar-benar sudah tidak tertahan. Ia mulai melihat sekeliling jikalau ada botol air mineral bekas yang bisa digunakan untuk menyaluran hasratnya itu, tetapi tak ia dapatkan. Untuk pipis terbuka ke laut, Lanang tak berani karena butuh keseimbangan yang luar biasa.
Masih ada sekitar satu setengah jam perjalanan, Lanang pun mau tak mau terus menyimak Bapak di sebelah kanan yang kini berbicara dengan seorang rekannya. Cerita Bapak itu begitu panjang lebar dari masalah republik ini yang tidak pernah merdeka karena agama tidak dijadikan sebagai dasar negara, cerita tentang rekannya yang meninggal karena menyelam sampai kedalaman 84 meter, tentang asal-usul dan pencaharian orang-orang di gugusan kepulauan ‘Seceng’, dan banyak lagi seolah-olah tak habis karena tiadanya ujung dari cerita Bapak itu. Terlepas dari isinya yang terkadang mengerikan, cerita-cerita itu cukup membantu Lanang menghabiskan waktu menahan buang air kecil yang diwarnai adegan-adegan menarik seperti harus berhentinya kapal di tengah laut karena sampah yang tersangkut di propeller.
Perjalananan pun tinggal setengah jam lagi. Namun, perjalanan ini memang tak pernah mudah. Cuaca yang awalnya cukup bersahabat tiba-tiba ingin bermusuhan. Di depan terlihat awan gelap dan laut yang tak tenang. Lalu terjadilah sedikit huru hara itu.
“mas, mbak, bawa tasnya! pindah ke depan, mau hujan nih!!” kata semacam kenek kapal itu
Seluruh penumpang yang berada di bagian atas diminta untuk pindah ke bagian depan bawah kapal yang tertutup agar tak kehujanan. Maka Lanang dan Gadis pun berjalan perlahan ke bagian depan. Angin makin kencang dan memberikan efek goyangan yang makin dahsyat. Di kapal ini, tidak ada yang menggunakan life jacket, jikalau ada yang jatuh ke laut maka nyawa adalah resikonya. Gadis berhasil masuk duluan ke bagian depan bawah kapal itu. Kini giliran Lanang. Lanang pun menaikkan kakinya, tiba-tiba angin kencang memberikan goyangan kuat.
“EIIIITTT!! hati-hati!! sini tasnya biar saya masukkin duluan!!” kata si kenek sambil membantu Lanang menyeimbangkan tubuhnya.
Lanang pun akhirnya berhasil masuk, dan mendapati dirinya berada dalam sebuah kabin yang gelap, penuh sesak. Situasi semakin parah ketika si bapak kenek menutup lubang masuk dengan sebuah papan kayu. Persaingan memperebutkan oksigen pun terjadi. Kini Lanang berada dalam posisi berdiri yang ternyata membantu tertahannya rasa ingin buang air kecil. Namun, goyangan yang terasa kini tak lagi terasa indah. Lanang mulai pusing karena gerah, kurang udara, dan goyangan yang terjadi. Cukup 5 menit untuk membuat Lanang mabuk kepayang.
“mas, saya boleh geser deket jendela? saya mual,” pinta Lanang dengan memelas pada seorang yang berdiri di jendela.
Lanang pun segera meloncat ke jendela sebelum orang yang berada di situ memberi jawaban. Tapi sebelum ada apa-apa yang terkeluarkan dari perut Lanang, angin laut mengelus pipi Lanang dan tiba-tiba rasa ingin muntah Lanang pun hilang. Selama sisa perjalanan, Lanang berdiri di pinggir jendela sambil melihat hujan di atas laut. Wajah dan pakaiannya sedikit basah karena tempias air, tapi baginya itu lebih baik daripada harus merasakan mual. Hujan semakin menderas, dan tanpa diduga air pun menetes dari bagian atap tepat di atas Gadis. Gadis pun mengambil sepertiga langkah ke belakang (setengah langkah tidak bisa dicapai karena padatnya manusia dan karung beras dalam ruang sempi itu) agar dirinya tidak basah kuyup. Sirkulasi udara yang begitu minim membuat pucat wajah orang-orang di dalam. Tampilan dan suasana di dalam ruang sempit itu begitu muram dan gerah, seperti sebuah operasi penyelundupan warga yang tak punya izin seberang.
Namun untungya tak perlu berjam-jam manusia-manusia di dalam ruang sempit itu merasakan gerah yang tak terkira di situ. Karena akhirnya dari kejauhan terlihat Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ yang disinyalir menawarkan berbagai pesona alam. Suara orang berteriak-teriak mempersiapkan rapatnya perahu ke pulau pun terdengar. Lanang dan Gadis pun tak sabar untuk melanjutkan petualangan mereka di pulau ini.


