Kataku KODRI

cerita saya dalam kata-kata, isinya…. ya liat aja sendiri

Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 2

tinggalkan komentar »

“SELAMAT DATANG DI PULAU ‘ORGANISASI BENTUKAN LORD BADDEN POWELL’ PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN ADMINISTRASI KEPULAUAN ‘SECENG’ ” tulisan itu terlihat di papan yang berdiri megah di gerbang Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’. Gerbang masuk itu berupa sebuah dermaga kecil yang terbuat dari kayu-kayu dengan pantai berpasir putih dan laut biru kehijauan menghiasinya. Hujan masih mengguyur pulau tersebut sehingga tak tampak banyak aktifitas terlihat di sekitarnya.

Sebagian penumpang kapal yang bertujuan ke pulau itu pun turun, termasuk Lanang dan Gadis. Lanang pun segera melihat pemandangan yang terhampar di depannya dengan satu tujuan, mencari tempat buang air kecil. Ia pun melihat sebuah masjid yang bisa menolongnya terlepas dari segala penderitaan. Segera ia giring dan arahkan Gadis untuk mengikuti langkahnya menuju masjid itu tanpa banyak ba bi bu. Setengah jalan cepat, sedikit ia tinggalkan Gadis yang sedang sibuk berusaha menelpon orang yang bisa memberikan mereka pencerahan mengenai tempat yang mereka bisa tempati malam itu. Setiba di masjid, langsung ia taruh begitu saja dua tas yang ia bawa dan beradu ke toilet pria. Disalurkannya hasrat yang tertahan itu.

Setelah lepas dari penderitaan, Lanang pun keluar dan mendapati Gadis yang gagal menemukan toilet wanita, untungnya hasrat Gadis masih bisa ditunda.

“gimana Dis? udah ditelpon Mbak Grace-nya?”

“udah-udah, ntar katanya ada orang yang jemput”

Tak berapa lama terlihat orang menggunakan jas hujan datang.

“dari Mbak Grace?” kata orang tersebut

“iya betul,” jawab Gadis

Orang itu pun mengambil tas yang dibawa Gadis (secara sopan, bukan menjambret) dan mengajak Lanang dan Gadis untuk mengikutinya ke penginapan yang ternyata berada dekat sekali dari dermaga. Tak sampai 10 menit berjalan kaki, mereka telah tiba di penginapan bernama ‘Villa de’Panca’ yang terdiri dari beberapa bangunan semacam bungalow bertingkat dua yang terbuat dari kayu. Halaman bungalow tersebut adalah pasir pantai, dan terasnya tentunya berfasilitas pemandangan langsung ke dermaga dan laut. Lanang dan Gadis pun beristirahat sejenak, sembari menunggu Mbak Grace sambil berharap-harap cemas agar hujan mereda. Akitfitas-aktifitas menikmati wisata bahari akan terancam gagal jikalau hujan tak kunjung berhenti.

Maka, Lanang dan Gadis pun duduk memandang lautan di teras bungalow tersebut. Di pulau itu, listrik tak menyala sampai pukul 16.00 WIB, maka hiburan yang bisa mereka nikmati adalah pemandangan laut itu. Di dermaga terlihat perahu-perahu kecil yang lazim disebut ojek perahu. Ojek perahu tersebut bisa mengantarkan manusia ke pulau-pulau kecil lain yang berada di sekitar.

Tak lama berselang, Mbak Grace yang dimaksud pun datang.

“Gadis ya?selamat datang di Villa de’Panca,” sapa Mbak Grace sembari memulai perkenalan.

Lalu, Mbak Grace pun menjelaskan mengenai kondisi dan hal-hal yang mereka bisa lakukan di pulau itu. Dari mulai tempat makan, snorkeling, sampai cara menggapai pulau-pulau lain yang ada di sekitar.

“Kalian bisa snorkeling di depan sini, ini karena hujan aja sepi. Biasanya banyak anak-anak kecil berenang. Selain itu, kalian juga bisa snorkeling di Pulau ‘Cai’ dan Pulau ‘Qaria’, kalian tinggal naek ojek perahu aja ke sana. Bayarnya 2500 rupiah, tapi jangan lupa minta jemput lagi ya sama supir ojek perahunya. Terus, kalau mau berenang-berenang aja, kalian jg bisa ke kolam apung di tengah laut, bilang aja ke ojek perahunya,”

“kalau mau makan di mana Mbak?” tanya Gadis

“kalian bisa buatkan makanan di pengurus villa, bisa juga cari di pulau ini, atau kalian bisa ke Pulau ‘Qeramba’, di sana ada restoran. Bisa juga kalian beli ikan di pulau itu, terus minta masakkan ke orang villa sini. Atau kalau kalian kesulitan telpon saja saya, soalnya saya juga mengurus catering untuk pemda sini. Pokonya kalau ada kesulitan hubungi saya aja ya.”

Setelah mendapatkan keterangan tersebut, Lanang dan Gadis lalu menyerahkan sejumlah uang untuk membayar biaya penginapan. Mbak Grace pun meninggalkan mereka untuk mengerjakan urusannya yang tentunya lebih penting daripada sekedar menemani Lanang dan Gadis.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB, Lanang dan Gadis sudah sungguh kelaparan, terutama Gadis yang porsi makannya memang agak ajaib untuk ukuran seorang perempuan (hal ini akan terbukti dalam perjalanan cerita ini ke depannya). Mereka pun berjalan ke arah belakang villa, melewati jalan setapak yang berada di antara rumah-rumah warga. Pulau itu memang kecil, bahkan Lanang tak melihat ada jalan yang bisa dilewati mobil. Mereka berjalan melewati rumah-rumah, tampak anak-anak SMP yang baru saja menyelesaikan jam belajar di sekolah mereka hari itu. Setelah berjalan sekitar 300 meter, mereka menemukan sebuah warung kecil yang menjual masakan ‘Minang’. Segera mereka sambangi warung itu, memesan, dan menyantap makanan yang telah dipesan.

Setelah mengisi perut, mereka tak buang-buang waktu. Dalam kondisi yang masih hujan, wisata bahari belum bisa dilaksanakan sehingga waktu yang ada bisa dimaksimalkan dengan mengelilingi pulau. Berdasarkan info yang mereka dapat, di bagian belakang pulau tersebut terdapat penangkaran penyu. Maka, berbekal sebuah payung yang mereka gunakan berdua, perjalanan pun dimulai. Lanang dan Gadis berjalan mengikuti jalan setapak yang ada, yang terkadang membingungkan karena batasan rumah-rumah di pulau tersebut tidak jelas. Beberapa kali jalan setapak itu malah mengarahkan mereka ke rumah penduduk. Sekitar 500 meter dari tempat mereka makan, terdapatlah sebuah lapangan sepak bola, dan dibelakang lapangan bola itu, terlihatlah laut yang berarti itu adalah bagian belakang pulau. Namun, jalan menuju ke sana nampak terhalang pagar. Mereka pun berjalan lagi penuh spekulasi. Kali ini jalan setapak mengarahkan mereka ke dalam sebuah wisma. Orang-orang di dalam wisma tersebut nampak bingung melihat dua mahluk yang seolah-olah autis ini berjalan. Lanang dan Gadis, cuek tak tahu malu.

Keluar dari wisma tersebut, pencerahan nampak. Tulisan-tulisan yang mengindikasikan taman nasional, begitu katanya, tempat penangkaran penyu berada telah ditemukan (kata-kata taman nasional memang terkesan megah, jangan bayangkan seperti itu, di pulau itu taman nasional hanya berisi fauna dengan papan yang menjelaskan nama ilmiah fauna tersebut). Lanang dan Gadis terus mengikuti jalan setapak sampai mereka menemukan sebuah papan kuning bertuliskan “PROGRAM PELESTARIAN PENYU SISIK (Eretmochelys imbricata)”. Lanang dan Gadis pun memasuki halaman tempat penangkaran penyu tersebut. Di sebelah kanan terlihat bangunan kecil yang merupakan kantor dari pengurus penangkaran sedangkan di kiri terlihat bangunan setengah tembok, setengah kawat, beratap, dengan tulisan ‘rearing area’. Ke belakang lagi terlihat area-area terbuka di mana penyu dikembangbiakkan secara semi-alami.

“Pak, kalau mau lihat penyu boleh?” tanya Gadis pada dua orang pengurus penangkaran tersebut yang sedang makan siang.

“oh iya sebentar,” kata salah seorang di antara mereka seraya mengambil kunci dan membukakan pintu rearing area.

Setelah membukakan pintu, ia kembali ke piringnya. Lanang dan Gadis pun memasuki rearing area yang terdiri dari beberapa bak-bak kotak berukuran kira-kira 1.5 x 1.5 x 1.5 m. Terdapat pula sebuah baskom besar yang berisikan penyu-penyu yang baru menetas.

Di bak pertama yang mereka lihat, hiduplah seekor penyu berukuran besar. Hal yang unik dari penyu tersebut adalah tempurungnya yang melengkung ke dalam. Disinyalir, penyu itu cacat. Lanang dan Gadis mengamati pergerakan penyu tersebut yang cukup aktif. Ia berenang-renang dalam gerakan yang akrobatik, terkadang ia berenang telentang, terkadang menyamping dengan cuma dua kaki di satu sisi tubuhnya. Ia juga sering kali menimbulkan suara dengan memukul-mukulkan kakinya ke dinding tembok sembari memiringkan tubuhnya. Suara unik terdengar tiap kali penyu tersebut mengambil napas.penyu cacat

Setelah melihat penyu yang cukup istimewa tersebut, Lanang dan Gadis melakukan inspeksi ke bak-bak lain. Penyu yang berada di sana beragam usia dan ukurannya. Penyu yang masih kecil, berkulit gelap dan belum terlihat sisiknya, tak berbeda jauh dengan kura-kura. Dari inspeksi ini, Lanang dan Gadis mendapatkan kosa kata baru, yaitu Tukik, sebutan untuk penyu kecil. Setelah puas melihat bak yang berisi penyu dan tukik, mereka beralih melihat foto-foto dan piagam penghargaan yang tergantung di dinding ruangan. Terlihat foto presiden kedua Negara Asal Susanti sedang melepas penyu yang sudah lulus dari penangkaran ini ke laut. Terdapat pula piagam penghargaan Kalpataru untuk seorang bapak bernama Salim yang sudah mendirikan penangkaran ini.

Puas melihat isi penangkaran penyu dan mengambi fotonya, Lanang dan Gadis berjalan kembali. Sebelum meninggalkan penangkaran, mereka mengisi sebuah kota sumbangan bertuliskan “PEDULI PENYU”.

“Pak, terima kasih ya,” pamit Gadis pada orang yang telah membukakan pintu rearing area tadi.

Hujan masih mengguyur pulau, Lanang dan Gadis pun memutuskan untuk kembali beristiarahat di ‘Villa de’Panca’ sambil menunggu cuaca yang lebih bersahabat. Mereka berjalan berdasarkan intuisi mengikuti rute jalan setapak yang berbeda dari yang mereka tempuh untuk menuji penangkaran penyu. Di tengah perjalanan, mereka menemukan sebuah rumah yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari. Lanang dan Gadis pun berhenti untuk membeli shampoo dan air mineral. Sembari menunggu Gadis yang sedang bertransaksi, Lanang melihat sekeliling. Di rumah seberang, terdapat sekelompok anak kecil yang sedang bermain bersama. Tak adanya listrik di siang hari membuat anak-anak itu harus kreatif mencari hiburan. Seperti yang dilakukan anak-anak itu yang memilih untuk bernyanyi bersama sebagai permainan mereka di siang hari itu. Lanang pun menyimak lagu yang mereka nyanyikan

Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikitpun ku bayangkan
Kau akan pergi tinggalkan kusendiri

Begitu sulit kubayangkan
Begitu sakit ku rasakan
Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri

Dibawah batu nisan kini
Kau tlah sandarkan
Kasih sayang kamu begitu dalam
sungguh ku tak sanggup
Ini terjadi karna ku sangat cinta

Inilah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
Selamat jalan kasih

Satu jam saja kutelah bisa cintai kamu;kamu;kamu di hatiku
Namun bagiku melupaknmu butuh waktuku seumur hidup
Satu jam saja kutelah bisa sayangi kamu… di hatiku
Namun bagiku melupaknmu butuh waktuku seumur hidup
di nanti ku……

Sebuah lagu dari sebuah band yang sedang populer saat ini. Sungguh fenomenal. Lanang pun memanfaatkan momen ini untuk menegaskan pada Gadis bahwa band tersebut adalah salah satu band terbaik bangsa saat ini dan Gadis pun harus menghargai hasil karyanya walaupun bertentangan dengan selera pribadinya.

Setelah beres dengan urusan perbelanjaan, mereka pun melanjutkan kembali berjalan. Sambil berjalan, mereka amati kehidupan penduduk pulau tersebut. Kini, mereka melewati beberapa penjual makanan di gerobak yang sedang dihinggapi beberapa pelanggan. Kehidupan tanpa listrik di siang hari memang terkadang sederhana tapi menakjubkan. Dalam situasi seperti ini, manusia menjadi sangat menghargai nilai dari interaksi sosial. Hari mereka diisi dengan obrolan dan komunikasi yang begitu erat menjalin keakraban di antara mereka. Tak ada siang hari yang diisi dengan menonton televisi sendiri, browsing di depan komputer, ataupun bermain console game.

Ternyata mudah saja berjalan-jalan di pulau ini. Lanang dan Gadis kini telah berada di depan masjid. Sebelum kembali ke Villa, mereka memperpanjang sedikit perjalanan dengan bertualang ke arah lain. Mereka mendapati sebuah taman yang ternyata merupakan semacam halaman dari Kantor Pemda. Sepertinya, kantor Pemda ini juga menyatu dengan bangunan sekolah SMA karena terlihat manusia-manusia berseragam putih abu di dalamnya. Terlihat pula sebuah rumah sakit yang bangunannya bergaya arsitektur modern, disinyalir rumah sakit ini baru dibangun tahun 2005. Setelah berjalan sampai ujung jalan yang bisa dilalui, mereka pun berbalik arah menuju dermaga. Di dermaga, terlihat serombongan anak-anak yang sedang menunggu ojek perahu. Dari sekian banyak pulau yang ada di gugusan itu, sekolah dan rumah sakit hanya ada di Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell ini’, sehingga anak-anak yang tinggal di pulau lain menggunakan ojek perahu sebagai alat transportasi lainnya.

Setelah lebih kurang berkeliling pulau dan melihat penyu selama satu setengah jam, Lanang dan Gadis telah kembali di ‘Villa de’Panca’. Hujan rintik-rintik masih mengguyur. Mereka pun mengambil posisi istirahat sambil bertanya dalam hati, akankah hujan ini berhenti sehinggah mereka bisa bertualang di lautan?

Written by dimaskodri

Mei 17, 2009 pada 1:17 am

Ditulis dalam blunderita, cerpenbung

Tinggalkan Balasan