Kataku KODRI

cerita saya dalam kata-kata, isinya…. ya liat aja sendiri

Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 3

with 5 comments

Sekitar pukul 15.00 WIB, Lanang dan Gadis berada di teras villa, mata mereka memandang ke arah lautan.

“yuhuy!!!” teriak Lanang

Matahari bersinar cerah, dermaga yang tadinya sepi kini telah ramai oleh keceriaan anak-anak yang mengisi sore hari mereka dengan berenang di laut. Lanang dan Gadis pun ingin juga mengisi sore hari ini dengan bermain air dan melihat keindahan alam di sekitar Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’. Mereka pun segera mendatangi kantor pengurus ‘Villa de’Panca’ untuk meminjam alat snorkeling beserta ilmu dan SOP agar mereka bisa melakukan kegiatan snorkeling tersebut.

“Pak, kalau mau snorkeling enaknya di mana, Pak?” tanya Lanang pada seorang pengurus villa.

“Di depan sini juga bisa, lautnya lagi bening. Atau kalau mau yang lautnya agak dalem, bisa ke Pulau Qaria, bisa juga ke penumbuhan terumbu karang, terserah aja. Nanti ada guidenya dari kita,” jawab Bapak tersebut

“alatnya bisa minjem di sini kan, Pak?” tanya Lanang lagi

“oh bisa-bisa, ke belakang dulu aja yuk, kita pilih alatnya dulu aja,” jawab Bapak tersebut.

Mereka pun berjalan ke arah tempat penyimpanan alat-alat snorkeling. Lanang dan Gadis adalah perjaka snorkeling. Mereka tak tahu alat-alat apa saja yang diperlukan untuk snorkeling apalagi cara menggunakannya.

“Pak, eeee….kita belum pernah snorkeling sebelumnya, nanti diajarin kan?”

“oiyaa, tenang aja. Nanti guidenya yang ngajarin. Sekarang pilih aja ukuran yang pas.”

Maka Lanang dan Gadis pun mulai mencoba-coba alat snorkeling yang terdiri dari masker, snorkel (selang untuk bernapas dari mulut), fin (kaki katak) dan life jacket. Antusiasme semakin merebak dalam diri Lanang dan Gadis. Setelah mendapatkan alat yang sesuai, mereka pun kembali ke villa untuk berganti dengan pakaian yang lebih sesuai untuk snorkeling.

Sembari menunggu kedatangan guide, Lanang dan Gadis mengintip sejenak ke laut. Benar adanya bahwa kondisi saat itu laut sedang bening, di samping dermaga dasar lautan yang masih dangkal itu bisa terlihat.

“mas, mbak nih sama mas Ibrahim aja ya snorkelingnya,”

Lalu, Lanang dan Gadis pun berkenalan dengan lelaki yang akan mengantarkan mereka untuk berwisata bahari. Seorang pria bernama Ibrahim, perantau dari Tapanuli Selatan yang bertubuh kurus.

“mau nyelem di mana nih mas sama mbaknya?” tanya Mas Ibrahim.

“yang bagus di mana ya?” Gadis bertanya balik

Lalu, Mas Ibrahim pun menjelaskan tentang objek-objek yang ada, gambaran singkat dari pulau-pulau di sekitar, rute dan waktu tempuh, serta keterbatasan waktu yang dimiliki karena ternyata objek perahu hanya tersedia sampai pukul 18.00 WIB. Setelah berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan untuk memulai snorkeling di samping dermaga sekaligus belajar beradaptasi dengan alat sebagai appetizer, sebagai main course adalah Pulau ‘Qaria’, dan appetizer akan dilakukan dengan membeli ikan di Pulau ‘Qeramba’ untuk dimasak di villa. Ini adalah opsi terbaik dan paling maksimal yang bisa ditempuh dengan keterbatasan waktu yang ada.

Tak mau membuang waktu, mereka pun segera menuju dermaga. Di sana, mereka disambut anak-anak yang sedang berenang. Lanang dan Gadis pun segera mengenakan alat-alat snorkeling. Mas Ibrahim memberikan sedikit teori tentang penggunaan alat-alat snorkeling. Setelah itu, mereka bertiga pun mencebukarkan diri ke laut. Mas Ibrahim pun mulai berenang-renang sembari mengarahkan Lanang dan Gadis untuk menikmati keindahan laut. Sejak kecil, Lanang memang akrab dengan olahraga air, tapi baru sekali ini ia saksikan secara langsung indahnya kehidupan di laut. Lokasi ini mungkin bukan yang paling indah, tapi buat orang yang belum pernah snorkeling tetap saja akan terpukau. Mereka pun menyelam di sekitar dermaga itu. Tidak sulit untuk menggunakan alat itu dan bernapas menggunakan mulut. Bagian yang sedikit mengesalkan adalah ketika ada mahluk laut yang berposisi sedikit di bawah, dan tidak bisa tersentuh karena terhalang oleh terapungnya tubuh akibat menggunakan life jacket.

Puas dengan appetizer dan adaptasi di laut sekitar Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’, mereka bertigaojek perahu antar pulau segera naik ke ojek perahu menuju Pulau ‘Qaria’ yang sedang ngetem menunggu penumpang. Sembari menunggu penumpang, Mas Ibrahim memberikan cerita-cerita tentang Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’. Terlihat dua orang pria menaikki kano dan sedang mendayung.

“di sini bisa juga kalau mau nyewa kano, biayanya 50 ribu sejam. Kalau tiga jam bisa cuma 100 ribu”

Tak lama, perahu pun cukup korum sehingga mulailah perjalanan singkat menuju Pulau ‘Qaria’ itu. Perahu itu berjalan tidak terlalu kencang, tidak pula terlalu lambat. Terpaan angin di wajah, sinar matahari yang lembut, dan laut biru yang terhampar luas memberikan efek yang sangat dramati bagi dua mahluk yang lebih terbiasa hidup di kota. Di perjalanan, Mas Ibrahim kembali meneruskan ceritanya dan menjalankan tugas sebagai guide yang baik dengan memberi penjelasan tentang pulau-pulau yang terlihat. Termasuk penjelasan mengenai pulau-pulau yang merupakan milik pribadi dari beberapa gelintir orang Indonesia yang memiliki terlalu banyak harta kekayaan. Terkadang sulit dipercaya bahwa ada orang-orang yang bisa melakukan itu, dan memanfaatkannya hanya untuk liburan bersama keluarga atau menjamu tamu-tamu tertentu. Tapi itu lah kenyataan yang terjadi di Indonesia, banyak sekali orang-orang yang tak mampu memiliki tempat tinggal sedangkan beberapa orang mampu membeli sebuah pulau yang hanya mereka gunakan ketika mereka berlibur.

Sekitar 10 menit perjalanan, mereka pun tiba di Pulau ‘Qaria’ yang luasnya hanya sekitar 6 hektar itu. Tak banyak buang waktu, mereka segera menuju titik awal penceburan. Titik ini ditentukan berdasarkan arah arus. Mereka akan berenang mengikuti arah arus. Menyelamlah mereka bertiga. Dan terlihatlah pemandangan yang membuktikan bahwa pulau ini layak jadi main course. Jumlah mahluk laut yang ada lebih banyak, ragam dan warna yang terlihat pun lebih memesona. Lanang tak tahu nama-nama ikan yang berwarna-warni di dalam, ia hanya mengenal bulu babi dan terumbu karang, tapi di laut, apalah arti sebuah nama. Tak heran banyak orang yang ketagihan dengan pemandangan ini.

Mereka bertiga terus berenang mengikuti arah arus. Dalam kondisi arus yang cukup kencang, tidak perlu banyak pergerakan, tubuh kita akan terbawa sendiri oleh arus tersebut. Pengalaman yang luar biasa terjadi ketika di hadapan Lanang terdapat banyak sekali ikan-ikan kecil yang berkumpul, entah apa yang mereka lakukan. Andaikan Lanang membawa roti, mungkin mereka akan mendekati Lanang ramai-ramai. Lanang dan Gadis pun terus berenang sampai titik ujung yang telah ditentukan.

“gimana Mas? lagi banyak banget ya ikannya?” tanya Mas Ibrahim sambil tersenyum

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 WIB. Mereka pun berjalan ke dermaga Pulau ‘Qaria’ itu, ojek perahu akan lewat sekitar pukul 17.00 WIB menuju Pulau ‘Qeramba’.

Pulau Qeramba‘Pulau Qeramba’ sepertinya bukanlah benar-benar pulau. Tempat ini hanya terdiri dari dermaga kayu, keramba-keramba tempat menangkap ikan, dan sebuah restoran yang bangunannya juga terbuat dari kayu. Sesampainya di sana, mereka bertiga segera memasuki restoran dan mendatangi freezer-freezer tempat penjualan almarhum ikan-ikan. Berbagai jenis ikan tersedia di sana, dengan berbagai ukuran pula, baik yang ikanawi maupun tidak ikanawai untuk dimakan. Gadis dan Lanang pun berdiskusi mengenai ikan apa yang akan mereka beli, tak lupa sambil bertanya pada bapak penjual ikan. Akhirnya pilihan mereka jatuh pada ikan kakap putih, bandeng tanpa duri (yang diklaim merupakan ikan ciri khas dari kepulauan seribu), dan cumi-cumi yang ukurannya cukup mengerikan. Sejumlah ikan yang jumlahnya cukup untuk lauk buat 3-5 orang itu hanya harus ditebus dengan 65 ribu saja. Sambil menunggu ojek perahu lain lewat, mereka berjalan-jalan di sekitar restoran melihat ikan-ikan yang sudah ditangkap di sana.

Sekita pukul 17.30 WIB, Lanang, Gadis, dan Mas Ibrahim telah kembali di Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’. Belum puas rasanya aksi snorkeling mereka, tapi apa daya. Hujan yang mengguyur bumi tadi siang membuat waktu mereka begitu terbatas. Dan cuaca pula yang menghalangi mereka melakukan aksi lain, melihat matahari tenggelam. Langit sore itu kembali berawan sehingga rencana yang satu ini pun harus dibatalkan.

Lanang dan Gadis menyerahkan sejumlah ikan yang mereka beli untuk dimasak oleh pengurus ‘Villa de’Panca’. Mereka pun menuju ke villa untuk membersihkan diri.

Olahraga air memang dikenal dapat menyebabkan rasa lapar yang luar biasa. Dan itulah pula yang mendera Lanang dan Gadis. Setelah membersihkan diri, mereka menengok ke proses pembakaran dan penggorengan mahluk-mahluk yang telah mereka bawa. Aroma bakaran yang menyeruak membuat mereka semakin lapar. Untung tak lama kemudian makanan tersebut siap. Terhidanglah ikan kakap dan bandeng tanpa duri bakar, serta cumi goreng tepung dalam jumlah yang cukup membunuh. Kombinasi tersebut sempurna dengan jumlah nasi yang juga meruah.

“duh, banyak banget nasinya!” kata Gadis

Lanang sependapat, bahkan ia tak yakin dirinya sanggup menghabiskannya. Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera melakukan proses pembumihangusan makanan-makanan tersebut. Rasanya luar biasa, fakta bahwa mereka sangat lapar menambah nikmatnya makanan tersebut.

Ternyata, rasa lapar yang amat sangat berhasil membantu Lanang menghabiskan makanannya lebih dahulu dari Gadis.

“kayanya aku ga abis deh nasinya, kamu mau ga Nang?” kata Gadis

“ga ah, aku jg ini udah setengah mati ngabisinnya. Udah, dibagi-bagi kecil-kecil aja nasinya, biasanya juga gitu kan biar abis”

“yeeeey…ga gitu juga sih. Ini kan banyak banget”

Walaupun ada sedikit nada protes, tapi Gadis melakukan saran Lanang. Ia membagi-bagi nasi yang tersisa menjadi 5 bagian yang lebih kecil.

“tuh kan paling abis juga,” ucap Lanang setengah bercanda. Sesungguhnya ia memang merasa nasi yang disajikan sangat banyak sehingga tidak mungkin Gadis yang kurus (walaupun terkenal banyak makannya) bisa menghabiskan.

“ya ga juga kali, dibagi aja, belum tentu abis juga ini,”

Gadis pun melanjutkan makannya perlahan. Perlahan tapi pasti. Benar-benar pasti. Di luar dugaan Lanang, Gadis berhasil menghabiskan satu porsi kuli nasi itu. Walaupun sudah sering melihat Gadis makan banyak, kali ini Lanang benar-benar takjub dan bingung karena tidak tahu makanan sebanyak itu lari ke mana di dalam tubuh Gadis.

Akhirnya hari indah itu pun harus berakhir. Lanang dan Gadis pun beristirahat karena besok pagi-pagi buta masih ada yang akan mereka lakukan sebelum kembali ke ibukota Negara Asal Susi Susanti. Melihat matahari terbit.

Written by dimaskodri

Mei 17, 2009 pada 10:48 pm

Ditulis dalam blunderita, cerpenbung

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. like what i said, nang
    sayah mah butuh bagian ekslusifnya…
    ditunggu di ym

    Linda

    Mei 18, 2009 at 10:03 am

    • husssh husssh..
      alim ah..

      dimaskodri

      Mei 18, 2009 at 11:23 am

  2. waduh.. urang juga mau mas.. bagian eksklusip

    fikri

    Juni 4, 2009 at 3:51 am

  3. naon sih bagian eksklusip?

    natashasamosir

    Juni 4, 2009 at 5:01 pm

    • itu lah…
      bagian yang itu sama anu…

      *menggali kuburan sendiri

      dimaskodri

      Juni 5, 2009 at 9:32 am


Tinggalkan Balasan