Archive for the ‘blunderita’ Category
Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 4
Pagi hari, sekira 05.30 WIB, Lanang dan Gadis telah berada di dermaga Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ untuk mencari pemandangan terbitnya matahari. Berdasarkan pengamatan akan arah kiblat masjid, maka terambil asumsi bahwa dermaga tersebut menghadap ke arah barat. Oleh karena itu, Lanang dan Gadis, berniat menyusuri pinggiran pantai ke arah yang lebih timur untuk bisa melihat matahari.
“Nang, ayo!udah mulai terang nih!” ajak Gadis agar Lanang mempercepat langkahnya.
Lanang dan Gadis pun menyusuri jalan pinggir dermaga yang masih sepi, hanya ada beberapa manusia yang sedang membersihkan perahu. Ternyata, jalan pinggiran dermaga itu pendek saja, dan di ujungnya terdapat daerah yang berpohon. Mereka pun mengikuti jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak-semak itu. Setelah berjalan sekitar 300 m mengikuti jalan setapak itu, mereka menemukan lagi pantai. Area pasir yang ada di pantai itu hanya beberapa meter saja karena air yang sedang pasang.
Langit semakin terang, Lanang dan Gadis menunggu matahari. Langit tampak berawan. Warna-warna kemerahan sudah terlihat, namun tebalnya awan menghalangi pandangan langsung Lanang dan Gadis menuju matahari terbit. Bagaimana pun, mereka tidak ingin perjalanan mereka tak berarti sehingga mereka tetap melakukan aktivitas utama, berfoto-foto. Baca entri selengkapnya »
Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 3
Sekitar pukul 15.00 WIB, Lanang dan Gadis berada di teras villa, mata mereka memandang ke arah lautan.
“yuhuy!!!” teriak Lanang
Matahari bersinar cerah, dermaga yang tadinya sepi kini telah ramai oleh keceriaan anak-anak yang mengisi sore hari mereka dengan berenang di laut. Lanang dan Gadis pun ingin juga mengisi sore hari ini dengan bermain air dan melihat keindahan alam di sekitar Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’. Mereka pun segera mendatangi kantor pengurus ‘Villa de’Panca’ untuk meminjam alat snorkeling beserta ilmu dan SOP agar mereka bisa melakukan kegiatan snorkeling tersebut.
“Pak, kalau mau snorkeling enaknya di mana, Pak?” tanya Lanang pada seorang pengurus villa.
“Di depan sini juga bisa, lautnya lagi bening. Atau kalau mau yang lautnya agak dalem, bisa ke Pulau Qaria, bisa juga ke penumbuhan terumbu karang, terserah aja. Nanti ada guidenya dari kita,” jawab Bapak tersebut
“alatnya bisa minjem di sini kan, Pak?” tanya Lanang lagi
“oh bisa-bisa, ke belakang dulu aja yuk, kita pilih alatnya dulu aja,” jawab Bapak tersebut.
Mereka pun berjalan ke arah tempat penyimpanan alat-alat snorkeling. Lanang dan Gadis adalah perjaka snorkeling. Mereka tak tahu alat-alat apa saja yang diperlukan untuk snorkeling apalagi cara menggunakannya. Baca entri selengkapnya »
Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 2
“SELAMAT DATANG DI PULAU ‘ORGANISASI BENTUKAN LORD BADDEN POWELL’ PUSAT PEMERINTAHAN KABUPATEN ADMINISTRASI KEPULAUAN ‘SECENG’ ” tulisan itu terlihat di papan yang berdiri megah di gerbang Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’. Gerbang masuk itu berupa sebuah dermaga kecil yang terbuat dari kayu-kayu dengan pantai berpasir putih dan laut biru kehijauan menghiasinya. Hujan masih mengguyur pulau tersebut sehingga tak tampak banyak aktifitas terlihat di sekitarnya.
Sebagian penumpang kapal yang bertujuan ke pulau itu pun turun, termasuk Lanang dan Gadis. Lanang pun segera melihat pemandangan yang terhampar di depannya dengan satu tujuan, mencari tempat buang air kecil. Ia pun melihat sebuah masjid yang bisa menolongnya terlepas dari segala penderitaan. Segera ia giring dan arahkan Gadis untuk mengikuti langkahnya menuju masjid itu tanpa banyak ba bi bu. Setengah jalan cepat, sedikit ia tinggalkan Gadis yang sedang sibuk berusaha menelpon orang yang bisa memberikan mereka pencerahan mengenai tempat yang mereka bisa tempati malam itu. Setiba di masjid, langsung ia taruh begitu saja dua tas yang ia bawa dan beradu ke toilet pria. Disalurkannya hasrat yang tertahan itu.
Setelah lepas dari penderitaan, Lanang pun keluar dan mendapati Gadis yang gagal menemukan toilet wanita, untungnya hasrat Gadis masih bisa ditunda.
“gimana Dis? udah ditelpon Mbak Grace-nya?”
“udah-udah, ntar katanya ada orang yang jemput”
Tak berapa lama terlihat orang menggunakan jas hujan datang.
“dari Mbak Grace?” kata orang tersebut
“iya betul,” jawab Gadis
Orang itu pun mengambil tas yang dibawa Gadis (secara sopan, bukan menjambret) dan mengajak Lanang dan Gadis untuk mengikutinya ke penginapan yang ternyata berada dekat sekali dari dermaga. Tak sampai 10 menit berjalan kaki, mereka telah tiba di penginapan bernama ‘Villa de’Panca’ yang terdiri dari beberapa bangunan semacam bungalow bertingkat dua yang terbuat dari kayu. Halaman bungalow tersebut adalah pasir pantai, dan terasnya tentunya berfasilitas pemandangan langsung ke dermaga dan laut. Lanang dan Gadis pun beristirahat sejenak, sembari menunggu Mbak Grace sambil berharap-harap cemas agar hujan mereda. Akitfitas-aktifitas menikmati wisata bahari akan terancam gagal jikalau hujan tak kunjung berhenti. Baca entri selengkapnya »
Petualangan Lanang-Gadis ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ – Bagian 1
Pagi itu, pukul 06.45 WIB, Lanang dan Gadis berada di dalam sebuah taksi yang sedang berputar-putar di daerah Utara Ibukota Negara Asal Susi Susanti. Tujuan mereka menaiki taksi itu adalah Muara Angke (bukan nama tidak sebenarnya). Lanang selalu berasumsi bahwa Muara Angke adalah daerah yang cukup tenar di kalangan supir taksi “Burung Biru”. Sayangnya, asumsi Lanang memang seringkali salah dan menyesatkan. Seperti hari itu, dengan situasi yang cukup runyam karena berdasarkan info yang didapat dari hasil berkelana di dunia maya, Lanang dan Gadis haruslah tiba di Muara Angke pukul 07.00 WIB untuk menaiki alat transportasi lain untuk pergi ke tujuan lain yang ingin dicapai.
Terhitung sudah tiga kali Bapak Supir Taksi “Burung Biru” nan budiman turun dari mobil untuk mempertanyakan kebenaran adanya Muara Angke sebagai sebentuk pelabuhan yang bisa menyebrangkan Lanang dan Gadis ke lokasi petualangan yang mereka inginkan. Setelah tiga kali itu pula, kini Lanang dan Gadis menghadapi sebuah gapura yang lebih mirip gapura desa daripada gapura sebuah pelabuhan, dengan jam sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Masuk ke dalam pun tak nampak gejala-gejala adanya pelabuhan. Terlihat jalanan yang tergenang air, rusuhnya orang yang lalu lalang, dan sebuah pertanda dekatnya laut yaitu bau ikan. Bapak Supir Taksi pun harus mengeluarkan kembali kemampuan utamanya, bertanya, dan kali ini jawabnya terdapatkan.
“Pak, kalau perahu yang berangkat ke Pulau ‘Organisasi Bentukan Lord Badden Powell’ di mana ya?” tanya Pak Supir
dongeng masa kecil bocah beralis
Sepenggal cerita yang menolak mati ketika diceritakan kembali oleh Ibunda kepada kakak-kakaknya.
Alkisah bocah beralis baru saja pulang dari sekolah, hari itu adalah hari pertamanya di Sekolah Dasar setelah lulus dengan nilai brilian magna cum laude dari TK (Taman Kanak-Kanak, bukan Teknik Kimia). Layaknya seorang bocah, sepulang sekolah sang anak yang memang bocah menemui ibundanya dan mencium tangannya (tangan Ibunda, bukan tangan si bocah itu sendiri). Sang Ibunda menyambut dengan penuh kasih sayang, ini ketiga kalinya ia berhasil membawa seorang bayi hasil peranakannya sampai ke Sekolah Dasar. Tak ada gading yang tak retak, tak pula sama cerita yang tiap anak bawa setelah hari pertamanya mencapai milestone besar ini.
Bocah ini pun berbeda tentunya, begitu yang orang-orang harapkan karena bocah ini lelaki tak sepertinya dua orang kakaknya. Dialog itu pun dimulai…. Baca entri selengkapnya »
Selasa sore, 11 Juni 2008
Di Selasa sore yang tenang, Lanang menatap monitor lebar yang berada di meja kerjanya. Sinar matahari menerpa dari jendela, sore itu begitu cerah. Suasana yang sangat cocok bagi seorang Reservoir Engineer untuk mengakrabkan diri dengan lembaran-lembaran kertas panjang berisikan garis-garis hitam, merah, hijau, kuning, biru. Warna-warna yang didapat dari kontrak mahal antara oil company dan oil service company. Warna-warna yang dapat mengindikasikan kehadiran hidrokarbon yang terperangkap dalam batuan pasir berpori setelah melalui proses pemasakan selama jutaan tahun.
Waktu menunjukkan pukul 14.55, masih ada dua setengah jam sebelum jam kerja berakhir. Waktu itu cukup bagi Lanang untuk memilih beberapa reservoir ciamik sebagai kandidat perforasi, proses penambakan casing, semen, dan batuan pasir seharga lebih kurang US$ 50.000. Perforasi ini diperlukan demi terjaganya nilai produksi gas perusahaan ‘Habis-habisan’.
Dan Lanang pun sedang menatap tajam lembaran kertas panjang demi mencari secercah warna merah yang menjadi perlambang keberadaan gas ketika Bapak LB, seorang ekspatriat yang mirip dengan Richard Gere, memasuki ruangannya. Wajahnya tampak bingung seperti bujang lapuk yang tak kunjung menemukan jodoh. Bapak LB adalah head department dari aset Tunu. Baca entri selengkapnya »
Blunder Lanang di Toilet
Pagi hari itu, Lanang tiba di CPU setelah 4 hari mengambang di laut. Perjalanan dari barge yang terparkir di sumur Yamamba-14 menuju CPU ia tempuh menggunakan seatruck selama lebih kurang 1 jam. Setibanya di CPU ia segera menuju kantor divisi Well Service untuk melapor.
Setelah sampai di kantor Well Service, ia langsung melapor kepada supervisor well service dan mengobrol dengan orang-orang divisi tersebut.
Tak berapa lama, Lanang merasakan gejolak-gejolak pergerakan di dalam perutnya. Lanang harus melakukan proses offloading sisa pencernaannya. Lanang pun segera mencari toilet terdekat. Sayangnya, toilet yang terletak di kantor well service tidaklah kondusif untuk dihinggapi dengan nyaman sehingga Lanang mencari toilet lain yang lebih prima. Lanang pun bergerak menuju toilet yang terletak di dekat ruang makan. Kali ini ia berhasil. Sebuah toilet yang mumpuni dengan wastafel, tempat buang air kecil, dan dua bilik tempat offloading sisa pencernaan. Toilet tersebut amat bersih dan nampak jarang dihinggapi manusia ataupun hewan. Lanang pun memutuskan untuk melakukan proses offloading di toilet ini. Baca entri selengkapnya »
Sepenggal Blunder Lanang-Gadis
Nang, kamu di mana? Aku dah di mall elit. Aku ke toko bermerk yang lagi sale dulu ya. Abis itu baru ketemu kamu.
Hari itu Lanang dan Gadis bertemu di dunia nyata. Mereka bertemu di sebuah mall di kawasan elit ibukota Negara Asal Susi Susanti. Lanang datang sendiri, sedangkan Gadis datang bersama keluarganya. Karena Gadis masih berbelanja bersama keluarganya, maka Lanang memutuskan untuk berputar sendiri di kawasan elit itu.
Hampir sejam Lanang berputar-putar di mall, Gadis tak kunjung usai berbelanja di toko yang sedang menjual barang-barangnya dengan harga tak lurus tersebut. Lanang menanti dengan sabar dan dengan penuh pengertian terhadap kekalapan kaum Hawa terhadap barang-barang dengan harga tak lurus. Baca entri selengkapnya »
blunder ketiga di balikpapan (buset udah ketiga aja)
hmmm….kebodohan ketiga yang terjadi di balikpapan….di kantor aja dong (malu deh gua…)
jadi…gua mengawali hari dengan semangat di kantor karena sekretaris divisi tempat gua bekerja sudah kembali dari cutinya..oke…berkurang lah kebingungan yang terjadi kemaren2…dan…
“mbak ririn, kenalin saya newcomer, dimas. em…login saya udah jadi belum mbak?”
bentar ya…beberapa jam kemudian….mbak ririn datang dengan membawa kertas berisi user id dan login….dengan semangat gua pun siap mencoba login baru…
mmm….passwordnya kok rese bgt ya….ya udahlah ya….masukkan password yang rese itu….dan…..tada….berhasil!!! eits langsung disuruh ganti…oke…masukkan aja password standar dimas….eh kok ga boleh ya… Baca entri selengkapnya »
blunder kedua di balikpapan…
oke…blunder kedua terjadi di hari ke-4…
jadi, hari ini ada halal bi halal perusahaan tempat gua kerja….halal bi halalnya diadain di novotel…jam 8 pagi..berhubung gua ga banyak tidur sebelumnya…dan baru bener2 tidur jam setengah 4…maka…gua dengan suksesnya ga terbangun oleh hp gua..tapi untung ada temen baik gua si brahma yang menelpon Baca entri selengkapnya »


