Archive for the ‘cerpenpasbas’ Category
Blunder Lanang di Toilet
Pagi hari itu, Lanang tiba di CPU setelah 4 hari mengambang di laut. Perjalanan dari barge yang terparkir di sumur Yamamba-14 menuju CPU ia tempuh menggunakan seatruck selama lebih kurang 1 jam. Setibanya di CPU ia segera menuju kantor divisi Well Service untuk melapor.
Setelah sampai di kantor Well Service, ia langsung melapor kepada supervisor well service dan mengobrol dengan orang-orang divisi tersebut.
Tak berapa lama, Lanang merasakan gejolak-gejolak pergerakan di dalam perutnya. Lanang harus melakukan proses offloading sisa pencernaannya. Lanang pun segera mencari toilet terdekat. Sayangnya, toilet yang terletak di kantor well service tidaklah kondusif untuk dihinggapi dengan nyaman sehingga Lanang mencari toilet lain yang lebih prima. Lanang pun bergerak menuju toilet yang terletak di dekat ruang makan. Kali ini ia berhasil. Sebuah toilet yang mumpuni dengan wastafel, tempat buang air kecil, dan dua bilik tempat offloading sisa pencernaan. Toilet tersebut amat bersih dan nampak jarang dihinggapi manusia ataupun hewan. Lanang pun memutuskan untuk melakukan proses offloading di toilet ini. Baca entri selengkapnya »
Kisah Lanang di Laut
Lanang terbangun dari tidur lelapnya yang belum seberapa lama. Dilihatnya telepon seluler yang terbaring dengan mesra di sebelahnya. Telepon seluler yang sudah tak berbentuk itu memang memiliki tugas harian untuk membangunkan Lanang (walau seringkali tak berhasil). Lanang pun melihat angka digital yang tertera. 05:50.
“ancooooool!!!!!!”, Lanang berteriak sambil meloncat dari kasurnya. Segera ia mengganti seluruh pakaian tidurnya dengan pakaian lapangan merah-merah yang telah ia siapkan. Diambilnya tas ranselnya yang penuh sesak dengan berbagai macam barang. Tanpa banyak basa-basi Lanang pun berlari keluar dari hotel. Ia harus mengejar bus yang akan berangkat dari kantor ‘Habis-habisan’ pada pukul 06:00.
Hari ini Lanang akan memulai petualangannya di lapangan gas Borneo Timur. Petualangan yang akan ia jalani selama 10 hari. Lanang ditugaskan oleh atasannya untuk menyaksikan beberapa pekerjaan well servicing yang akan dilakukan di beberapa sumur gas di delta Mahakam. Baca entri selengkapnya »
Sepenggal Blunder Lanang-Gadis
Nang, kamu di mana? Aku dah di mall elit. Aku ke toko bermerk yang lagi sale dulu ya. Abis itu baru ketemu kamu.
Hari itu Lanang dan Gadis bertemu di dunia nyata. Mereka bertemu di sebuah mall di kawasan elit ibukota Negara Asal Susi Susanti. Lanang datang sendiri, sedangkan Gadis datang bersama keluarganya. Karena Gadis masih berbelanja bersama keluarganya, maka Lanang memutuskan untuk berputar sendiri di kawasan elit itu.
Hampir sejam Lanang berputar-putar di mall, Gadis tak kunjung usai berbelanja di toko yang sedang menjual barang-barangnya dengan harga tak lurus tersebut. Lanang menanti dengan sabar dan dengan penuh pengertian terhadap kekalapan kaum Hawa terhadap barang-barang dengan harga tak lurus. Baca entri selengkapnya »
Tengah Malam si Lanang
I can’t live…with or without you…
Lanang terbangun dari tidurnya. Dilihatnya barang yang selalu ada di sebelahnya di saat ia terlelap mengarungi dunia mimpi. Teknologi yang mencapai masa jayanya sejak awal tahun 2000-an dan menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat modern di seluruh dunia saat ini. Benda ini adalah nyawa bagi Lanang, penghubung komunikasinya dengan pulau seberang. Penyambung cinta.
“sepi,” tak ada pesan singkat, tak ada panggilan tak terangkat. Hanya gambar bayi tersenyum yang menghiasi layar berwarna benda tersebut. Angka digital pada layar menunjukkan waktu. 00.28.
“sepi,” begitu pula perasaan hati Lanang. Dirinya merasa sepi di Kota Minyak itu. Sudah sebulan sejak dirinya pindah ke Kota Minyak. Sudah sebulan sejak ia terakhir bertemu dengan Gadis. Baca entri selengkapnya »
je viens ce soir
…je viens ce soir…
Kutulis kalimat itu di akhir e-mailku. Aku tak tahu apa dia akan mencari arti dari kalimat itu atau tidak. Aku juga tidak tahu kenapa aku harus menulis kalimat itu padanya. Bukankah aku ingin ini semua tidak diketahuinya?ah sudahlah, tak perlu aku pikirkan. Bukankah aku memang selalu bertindak impulsif di dekatnya?Terlalu banyak mempertanyakan hanya akan membuatku semakin bingung.
Kujalani hari itu dengan perasaan yang aneh. Apa aku mempertanyakan tujuanku? Ya. Apa aku ragu bahwa kondisinya akan seperti kala itu? Ya. Apa aku mempertanyakan kebenaran moral dari tindakanku? Ya. Apa aku takut akan dikecewakan ketika aku sudah bersusah payah? Ya. Baca entri selengkapnya »


